Info DaerahOPINI

Slogan Baru Jombang “Root of Java” Tuai Kritik, Dinilai Tak Cerminkan Identitas Kota Santri

Share

Oleh: [Cak Ear]
Wartawan Headshot Media

Ketika sebuah daerah memutuskan untuk mengubah slogannya, hal itu bukan hanya sekadar perkara mengganti kalimat. Ia mencerminkan arah baru, identitas yang ingin dikukuhkan, serta pesan simbolik yang hendak disampaikan ke dunia. Namun ketika Pemerintah Kabupaten Jombang menggulirkan wacana perubahan slogan menjadi “Jombang The Root of Java”, respons publik pun bergemuruh — mulai dari sambutan skeptis hingga kritik tajam yang menilai langkah ini sebagai ahistoris dan melemahkan akar identitas lokal yang selama ini mengakar kuat: Jombang Kota Santri.

Antara Branding dan Akar Budaya

Dalam pernyataannya, Pemkab Jombang — melalui Kepala Bappeda Danang Praptoko — menjelaskan bahwa slogan ini diinisiasi oleh Bupati Warsubi sebagai bagian dari upaya rebranding untuk meningkatkan daya tarik investasi. Pilihan menggunakan bahasa Inggris dianggap selaras dengan visi globalisasi daerah.

Namun pertanyaan fundamental muncul: apakah branding modern harus mengorbankan keotentikan historis dan kultural?

Secara geografis, narasi “The Root of Java” memang problematis. Jika yang dimaksud adalah akar peradaban Jawa, maka nama-nama seperti Trowulan (pusat Kerajaan Majapahit) atau Kediri (kerajaan Kadiri dan Panjalu) lebih memiliki legitimasi historis. Sementara itu, Jombang, meski memiliki kekayaan sejarah tersendiri, justru dikenal secara nasional dan internasional sebagai episentrum Islam moderat — rumah bagi para ulama besar, pesantren legendaris, dan tokoh nasional sekelas KH. Hasyim Asy’ari dan Gus Dur.

Mengubah slogan dari citra religius dan kultural menjadi branding generik beraroma “modernitas artifisial” berpotensi menanggalkan identitas khas yang selama ini membedakan Jombang dari kota-kota lain.

Identitas Kultural: Lebih dari Sekadar Label

Slogan bukan sekadar kata-kata. Ia adalah statement of identity. “Jombang Kota Santri” bukan sekadar simbol religiusitas, melainkan juga nilai sosial yang membentuk cara hidup masyarakat: toleransi, pendidikan, etika.

BACA JUGA :  Pemkab Jombang Tingkatkan Jalan Kemuning Senilai Rp1,16 Miliar, Pengecoran dan Pengaspalan Dikebut

Mengubah slogan menjadi “The Root of Java” tanpa memperhitungkan aspek historis dan psikososial masyarakat lokal bisa dibaca sebagai bentuk pengaburan identitas. Bahkan lebih jauh, bisa menjadi bentuk alienasi simbolik terhadap warisan budaya yang selama ini dijaga oleh generasi pesantren, kiai, dan kaum santri.

Aspek Ekonomi dan Investasi: Apakah Slogan Jadi Penentu?

Alasan branding demi investasi tentu masuk akal dalam konteks pembangunan ekonomi. Namun patut dikritisi: apakah perubahan slogan menjadi “The Root of Java” benar-benar memiliki value proposition yang kuat di mata investor?

Investor pada umumnya melihat aspek regulasi, insentif fiskal, infrastruktur, dan stabilitas politik, bukan hanya tagline. Justru identitas yang kuat dan autentik sering kali menjadi daya tarik tersendiri. Sebagai contoh, Bali tetap dikenal dunia sebagai Pulau Dewata tanpa harus menyesuaikan slogan ke ranah globalisasi kosong makna.

Alih-alih mengorbankan identitas, Pemkab Jombang seharusnya bisa memperkuat narasi “Kota Santri” dalam bingkai kekinian. Misalnya: “Jombang, Kota Santri Berbasis Inovasi” atau “Jombang: Religious Wisdom, Modern Living.”

Kritik Publik dan Desakan Evaluasi

Reaksi masyarakat tidak bisa diabaikan. Sejumlah akademisi, tokoh masyarakat, hingga aktivis budaya menyuarakan keberatan terhadap wacana ini. Mereka menilai bahwa Pemkab Jombang tidak cukup melibatkan partisipasi publik dalam menentukan arah branding daerah.

Selain itu, muncul pula pertanyaan kritis: apakah anggaran dan energi yang dicurahkan untuk merancang slogan ini sebanding dengan hasil yang akan dicapai? Apakah ini sekadar ambisi simbolik tanpa dampak nyata terhadap pembangunan?

Rekomendasi: Jalan Tengah untuk Identitas dan Masa Depan

  1. Libatkan masyarakat sipil, budayawan, dan akademisi dalam setiap proses perumusan identitas publik. Ini bukan urusan birokrat semata.
  2. Lakukan kajian historis dan kultural yang menyeluruh. Jangan mengabaikan warisan simbolik yang sudah melekat dan diakui publik luas.
  3. Perkuat slogan lama dengan narasi baru, alih-alih mengganti total. Misalnya menggabungkan elemen religius, budaya, dan modernitas secara seimbang.
  4. Transparansi dan evaluasi anggaran branding. Jangan sampai penggantian slogan hanya menjadi proyek formalitas tanpa urgensi nyata.
BACA JUGA :  300 Kios Kosong di 16 Pasar Jombang Dibuka untuk Umum, Pendaftaran Tanpa Lelang

Kesimpulan: Mencabut Akar atau Menumbuhkan Daun?

Wacana “Jombang The Root of Java” memang terdengar megah. Namun akar, jika ditarik dari tempatnya, justru tidak akan mampu menopang pohon yang tumbuh. Jombang adalah kota dengan akar kuat — akar religiusitas, akar kebudayaan, akar nasionalisme.

Mengubah slogan tanpa menghormati akar tersebut bukan hanya langkah keliru secara strategi, tapi juga simbolik. Pemerintah boleh punya ambisi besar, tapi ambisi tanpa akar hanyalah retorika — yang mudah tumbang saat diterpa angin kritik publik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *