“Kota Santri” Tidak Bisa Dipatenkan? Lantas, Apa Kita Perlu Ganti Identitas?
Oleh: Redaksi Headshot Media
Di tanah di mana jejak para ulama menoreh sejarah dan para santri merapal ilmu sejak subuh hingga malam, kini muncul kabar mengejutkan: Jombang tak lagi “Kota Santri”. Setidaknya bukan secara resmi. Pemkab mengganti tagline yang sudah melekat puluhan tahun menjadi:
“Jombang Santri – The Root of Java.”
Alasannya? Karena “Kota Santri” tidak bisa dipatenkan.
Hmmm. Mari kita berhenti sejenak dan bertanya:
Sejak kapan identitas harus dipatenkan untuk diakui sebagai milik?
Kota Santri: Lebih dari Sekadar Label
Kalau bicara soal branding, “Kota Santri” bukan sekadar slogan promosi wisata. Ia adalah identitas kultural dan historis. Melekat karena fakta, bukan sekadar kata.
Jombang adalah tanah kelahiran para ulama besar: KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri.
Di sinilah NU berakar. Di sinilah Gus Dur dibesarkan.
Lebih dari 400 pesantren hidup dan tumbuh di kota ini, menjadi pusat rujukan pendidikan Islam klasik hingga kontemporer.
Dengan semua itu, Jombang tak butuh paten untuk disebut Kota Santri.
Ia disebut begitu karena dunia melihatnya begitu.
Tidak Bisa Dipatenkan? Lalu?
Alasan “tidak bisa dipatenkan” terdengar lebih seperti argumen teknokrat ketimbang pemakna identitas.
Lantas kalau identitas tak bisa dipatenkan, apa kita harus berganti nama?
Apakah Jogja akan berhenti disebut “Istimewa” hanya karena kata itu bisa dipakai siapa saja?
Apakah Solo harus ganti slogan karena “Spirit of Java” juga bisa dipakai tetangganya?
Kota tidak sedang berlomba-lomba dalam hak paten. Kota berlomba dalam keaslian dan konsistensi.
Dan sayangnya, mengganti “Kota Santri” ke “The Root of Java” justru menimbulkan tanda tanya besar: kita ini sedang memperkuat atau malah meninggalkan akar kita?
“The Root of Java”: Akar dari Mana?
Secara literal, The Root of Java berarti “akar dari Jawa.”
Pertanyaannya: Apakah Jombang adalah akar peradaban Jawa?
Kalau bicara budaya Jawa, orang akan menunjuk ke Yogyakarta, Surakarta, atau Mojopahit di Mojokerto.
Kalau bicara awal mula Jawa, para sejarawan malah akan mundur jauh ke era Jawa Kuno di Jawa Tengah dan DIY.
Jombang punya akar kuat—tapi di bidang keislaman dan pesantren, bukan sebagai pusat budaya Jawa klasik.
Jadi apa kita sedang membangun narasi baru… atau justru kehilangan arah?
Identitas Bukan Soal Eksklusivitas
Mengapa kita begitu takut jika daerah lain juga menggunakan “Kota Santri”?
Bukankah lebih indah jika Indonesia punya banyak kota santri? Seperti banyak kota pelajar, banyak kota budaya, banyak kota kuliner?
Yang membedakan bukan nama, tapi kontennya.
Jombang bisa tetap Kota Santri—karena punya Tebuireng, Denanyar, Tambakberas, dan sejarah panjang lahirnya organisasi keislaman besar.
Kalau ingin memperkuat branding, bukan taglinenya yang diganti—tapi narasinya yang diperkuat.
Catatan Penutup
Mungkin niat Pemkab baik: ingin tampil global, ingin tampak modern, ingin beda.
Tapi jangan sampai perubahan yang tampak keren di kertas, justru mengaburkan jati diri di kenyataan.
“Kota Santri” adalah warisan. Ia lahir dari sejarah, tumbuh dari tradisi, dan hidup dalam kesadaran masyarakat.
Mencopotnya hanya karena tak bisa dipatenkan, sama seperti membuang silsilah keluarga karena nama belakang kita pasaran.
Kalau begitu, siapa kita sekarang?
Headshot Media.
Kami tidak sedang mencari akar yang baru. Kami hanya mengingatkan: jangan cabut yang sudah menancap dalam.
