Info DaerahOPINI

Kebonratu: Taman Tanpa Imajinasi, Pemerintah Tanpa Agenda

Share

Oleh: [Cak Ear Kolomnis Visioner]

Mari jujur saja: Kebonratu itu bukan gagal karena sepi, tapi karena tidak pernah dirancang untuk hidup. Ia lahir dari proyek, bukan visi. Dibangun untuk menyerap anggaran, bukan untuk menjawab kebutuhan publik. Maka jangan heran kalau ia tumbuh tanpa jiwa, dan kini menua dalam kesepian.

Lebih dari satu dekade sejak muncul dalam wacana pembangunan kota, Kebonratu tetap seperti itu-itu saja. Indah di proposal, lesu di kenyataan. Dan kini, ketika publik bertanya, pemerintah menjawab dengan mantra paling kuno dalam kamus birokrasi: “menunggu investor.”

Maaf, kita bukan kekurangan investor. Kita kekurangan ide.


“Taman” Itu Cermin, dan Cermin Itu Retak

Setiap kota punya ruang publik yang jadi cermin peradabannya. Sayangnya, Kebonratu mencerminkan wajah Jombang yang gagap membangun makna. Lahan luas di pusat kota dibiarkan kosong makna, kosong aktivitas, kosong keinginan untuk bertanya: “Mau jadi apa kita sebagai kota?”

Mengapa tidak diubah menjadi pusat kegiatan budaya? Mengapa tidak didesain ulang jadi pasar kreatif anak muda? Mengapa tidak dijadikan simpul antara komunitas, UMKM, dan ruang ekspresi publik?

Karena jawabannya satu: tidak ada yang berpikir ke sana.


Pemerintah Daerah Perlu Lebih dari Sekadar Foto Tinjauan

Pemerintah kita terlalu rajin membangun taman, tapi malas merancang ekosistem. Mereka senang memotong pita, tapi enggan duduk lama-lama mendengar suara komunitas. Mereka menunggu investor, padahal yang dibutuhkan adalah keberanian untuk menginisiasi.

Investor tak butuh seremoni. Mereka butuh kalkulasi dan jaminan pengelolaan profesional. Kebonratu sepi bukan karena tidak menarik, tapi karena tidak dikemas sebagai produk urban yang layak jual.

Bukankah sudah saatnya kita berhenti membangun ruang tanpa jiwa?

BACA JUGA :  PUPR Jombang Benahi Jalan Mayjend Sungkono dan Kemuning, Bahu Jalan Diperkuat dan Permukaan Ditingkatkan

Rebranding Bukan Ganti Nama, Tapi Ganti Nalar

Silakan ganti nama Kebonratu jadi apapun. Tapi selama nalar pembangunannya masih mental proyek, semua akan kembali ke titik semula: taman tidur yang penuh potensi, tapi dikelola oleh orang-orang yang sudah lama mengantuk.

Yang dibutuhkan Kebonratu hari ini bukan cat baru, bukan plang baru, tapi gagasan baru:

  • Jadikan taman ini pusat budaya santri-kota.
  • Gelar festival mingguan dengan komunitas.
  • Buka ruang kolaborasi terbuka untuk seniman, literatur, dan UMKM.
  • Koneksikan Kebonratu dengan jalur wisata sejarah dan religi Jombang.

Ini bukan rumus sulit. Ini hanya butuh niat politik dan sedikit keberanian untuk lepas dari budaya “asal dibangun.”


Kebonratu Bisa Jadi Simbol Kota Baru, atau Simbol Ketidakbecusan yang Abadi

Kita tidak bisa terus menuntut perubahan dari warga jika pemerintah sendiri tidak mau berubah cara berpikir. Kita tidak bisa terus menyebut diri sebagai kota santri yang berbudaya jika ruang publik kita mati rasa dan miskin aktivitas.

Jika dibiarkan, Kebonratu akan jadi monumen kegagalan pemerintah daerah dalam mengelola imajinasi publik. Tapi jika dibangkitkan, ia bisa jadi panggung tempat kota ini menulis bab baru: tentang kota yang hidup dari bawah, oleh ide, dan untuk warga.


Terakhir: Jangan Salahkan Warga Kalau Lupa Taman Ini Pernah Ada

Karena ruang publik yang tidak relevan akan dilupakan. Dan pemerintah yang tidak peka akan ditinggalkan sejarah. Kita masih punya waktu. Tapi tidak selamanya warga punya sabar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *