Kebonratu dan Kegagapan Kita Mengelola Potensi
Oleh: [Cak Ear Kolomnis Klasik]
Di tengah kota yang terus tumbuh dan berubah, Kebonratu di Jombang berdiri sebagai saksi bisu dari mimpi yang belum selesai. Ia seperti buku yang hanya ditulis di bab pertama, lalu ditinggalkan. Padahal, jika dibaca dengan saksama, halaman-halaman selanjutnya menyimpan potensi cerita besar: tentang ruang publik, budaya, ekonomi, dan harapan warga.
Namun hingga hari ini, Kebonratu justru lebih sering hadir dalam berita sebagai taman kosong yang menanti investor yang tak kunjung datang. Sepi. Mati gaya. Lalu pelan-pelan lenyap dari ingatan publik. Pertanyaannya, benarkah penyebabnya karena tidak ada investor? Atau justru karena kita gagal menciptakan “nilai” yang layak untuk diinvestasikan?
Masalahnya Bukan Sekadar Taman, Tapi Cara Pandang
Di banyak kota di dunia, taman bukan hanya tempat bermain atau jogging. Ia bisa menjadi jantung kreativitas kota, ruang pertemuan antaride, pusat pertunjukan budaya, bahkan galeri terbuka yang mendongkrak sektor ekonomi kreatif.
Sayangnya, di Jombang, taman masih kita perlakukan sebagai proyek infrastruktur, bukan sebagai platform sosial. Kebonratu dibangun, dipercantik, lalu dibiarkan berharap investor jatuh hati. Ini cara pandang lama: menunggu uang datang tanpa memberi alasan kenapa uang harus datang ke kita.
Seperti orang yang membuka warung tapi tak pernah merancang menu yang menggoda, Kebonratu kehilangan narasi. Tidak ada cerita kuat yang membuat publik merasa butuh datang dan investor merasa perlu menanam modal. Tanpa cerita, tidak ada daya lekat. Tanpa daya lekat, tidak ada masa depan.
Jombang Bukan Kota Kosong. Ia Kaya Cerita
Apa yang tak dimiliki kota ini? Kita punya pondok pesantren besar, sejarah tokoh nasional, komunitas literasi, seniman muda, bahkan pasar rakyat yang hidup. Potensi itu hanya butuh wadah dan manajemen kreatif. Kebonratu bisa menjadi itu.
Bayangkan jika taman ini dihidupkan sebagai pusat kegiatan komunitas lintas generasi, panggung seni jalanan, kafe literasi santri, atau pusat UMKM berbasis budaya. Bukan tidak mungkin, dalam lima tahun, ia bisa menjadi versi kecil Ubud, Braga, atau bahkan Taman Ismail Marzuki dalam versi Jombang.
Namun untuk itu, pemerintah tak bisa hanya menunggu. Harus ada keberanian untuk mengganti cara berpikir dari “membangun fisik” menjadi “membangun ekosistem”. Dan membangun ekosistem berarti mendengar, merangkul, lalu berkolaborasi.
Bukan Investor yang Tak Datang, Tapi Kita yang Tak Siap Menyambut
Investor tidak datang karena kita tidak menyodorkan skema yang jelas. Tidak ada narasi bisnis yang konkret, tidak ada proyeksi ROI, bahkan tidak ada event planner jangka panjang. Bagaimana mungkin orang berani menanamkan modal di taman yang tak punya agenda?
Revitalisasi Kebonratu butuh perubahan total: dari nama hingga peran. Mungkin perlu rebranding—bukan sekadar secara visual, tapi secara makna. Mungkin juga perlu dikelola oleh BUMD atau badan khusus berbasis profesionalisme, bukan hanya diserahkan ke dinas yang terlalu birokratis.
Dan yang paling penting: libatkan warga. Libatkan komunitas. Libatkan santri, pelajar, pegiat seni, pengusaha kecil. Karena ruang publik yang baik bukan dibangun dari atas, tapi tumbuh dari bawah—dari rasa memiliki.
Penutup: Antara Ruang dan Harapan
Kebonratu bukan sekadar lahan kosong. Ia adalah ruang yang menunggu untuk menjadi ruang harapan. Tapi seperti semua harapan, ia butuh keberanian untuk diwujudkan. Jika pemerintah daerah ingin dikenang bukan sebagai penjaga kebuntuan, tapi sebagai penggerak perubahan, maka di sinilah panggungnya. Bukan di gedung, bukan di spanduk, tapi di taman kota yang bisa menjadi jantung baru Jombang.
Kita hanya perlu sedikit imajinasi, dan banyak aksi.
