Menu MBG Diprotes, Dapur Penyedia Tarik Singkong Goreng dan Ganti Dua Paket Sekaligus
JOMBANG, headshot Media – Polemik nilai menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat. Sejumlah wali murid dan guru menilai komposisi makanan yang dibagikan tidak sebanding dengan alokasi anggaran Rp 10 ribu per porsi. Menanggapi hal tersebut, pihak dapur penyedia akhirnya menarik salah satu menu dan menggantinya dengan paket baru yang dibagikan dobel.
Suprayogi, penanggung jawab dapur MBG, memilih irit bicara saat disinggung soal kesesuaian biaya dan kualitas menu. Ia tidak memberikan tanggapan detail terkait tudingan bahwa nilai makanan jauh dari angka yang disebutkan.
“Ya kalau nilai yang hari ini sudah diganti, sesuai empat menu, kalau yang kemarin ya tidak dihitung lagi,” ujarnya singkat.
Sebagai bentuk respons atas evaluasi yang muncul, pihak dapur menarik seluruh menu singkong goreng yang sebelumnya dibagikan kepada 2.157 penerima manfaat. Menu tersebut dinilai menjadi sorotan utama dalam keluhan yang berkembang.
Sebagai pengganti, dapur menyediakan tambahan paket makanan pada hari berikutnya. Para penerima MBG mendapatkan dua paket sekaligus dalam satu hari.
Adapun isi paket pengganti tersebut terdiri dari dua roti, dua telur, kedelai rebus, kedelai goreng, serta satu bungkus susu. Dengan skema ini, setiap penerima memperoleh dua kali porsi dari menu yang dibagikan hari itu.
“Kami dari pihak dapur minta maaf, dan kita menggantinya untuk hari ini,” pungkas Suprayogi.
Langkah penarikan dan penggantian menu ini menjadi perhatian publik, terutama terkait transparansi dan pengawasan pelaksanaan program MBG di lapangan. Wali murid berharap ke depan ada evaluasi menyeluruh agar kualitas dan nilai gizi makanan benar-benar sesuai standar serta anggaran yang telah ditetapkan.
Sementara itu, sejumlah guru meminta agar pengelola lebih terbuka terkait rincian komposisi dan perhitungan biaya. Menurut mereka, program MBG memiliki tujuan mulia untuk mendukung asupan gizi siswa, sehingga pelaksanaannya harus dijaga dengan baik agar tidak menimbulkan kekecewaan.
Kasus ini menjadi catatan penting bahwa selain kuantitas, kualitas dan akuntabilitas program bantuan pangan juga menjadi faktor krusial dalam menjaga kepercayaan masyarakat.(*)
Editor : Adm
