Plafon Puskesmas Perak Jombang Roboh, Pasien DBD Terluka: Diduga Akibat Kelembapan dan Konstruksi Lemah
Headshot Media Jombang – Insiden mengejutkan terjadi di Puskesmas Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu pagi (10/5). Sebuah bagian plafon bangunan yang terbuat dari bahan hard board dilaporkan roboh dan menimpa seorang pasien demam berdarah dengue (DBD) yang sedang dirawat. Plafon sepanjang sekitar tujuh meter dengan lebar dua meter tersebut tiba-tiba ambrol sekitar pukul 06.00 WIB.
Kejadian ini sontak menjadi perhatian publik setelah diunggah oleh pihak keluarga korban melalui media sosial Facebook. Unggahan tersebut langsung viral dan memicu reaksi dari masyarakat. Aparat kepolisian dari Polsek Perak pun segera turun tangan untuk meninjau langsung kondisi bangunan dan melakukan penyelidikan awal.
Menurut keterangan Kepala Puskesmas Perak, Oisatin, insiden terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Jumat malam. Diduga kuat curah hujan tinggi menyebabkan kelembapan berlebih pada plafon yang membuat daya tahan konstruksinya melemah. “Malamnya hujan sangat lebat, dan pagi harinya sekitar pukul enam plafon tiba-tiba roboh,” ujar Oisatin saat dikonfirmasi pada Minggu siang (11/5).
Saat kejadian, korban yang merupakan pasien DBD sedang terbaring sendirian di ruang perawatan. Ia sempat menyadari adanya suara aneh dari atas dan mencoba menghindar. Namun nahas, selang infus yang terpasang di tubuhnya tertarik, sehingga ia tak bisa sepenuhnya menghindar dari reruntuhan.
Korban mengalami luka pada pelipis wajahnya akibat terkena serpihan plafon. “Lukanya sekitar satu centimeter, langsung kami tangani di lokasi,” jelas Oisatin. Usai kejadian, pasien segera dirujuk ke RSUD untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut terkait demam berdarahnya, sekaligus pengobatan atas luka yang diderita.
Ruangan tempat kejadian langsung dikosongkan dan ditutup sementara untuk pemeriksaan dan perbaikan. Pihak Puskesmas belum memastikan kapan ruangan akan kembali digunakan.
Sementara itu, Kapolsek Perak, Iptu Muhammad Supriyono, menyatakan bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap peristiwa ini. Dugaan sementara menyebutkan bahwa plafon roboh akibat kelembapan yang menyebabkan bahan material melemah, ditambah penyangga yang tidak cukup kuat menahan beban.
“Dari hasil awal, kami menduga plafon lembab dan penyangganya tidak memadai, sehingga roboh dan mengenai pasien. Korban mengalami luka di pelipis sekitar satu centimeter akibat serpihan,” terang Iptu Supriyono.
Pihak kepolisian juga berencana meminta keterangan dari keluarga pasien yang sempat mengunggah keluhan ke media sosial. Hal ini dilakukan untuk melengkapi proses penyelidikan serta mendalami dugaan adanya kelalaian dalam pembangunan atau perawatan fasilitas kesehatan tersebut.
Yang lebih memprihatinkan, ternyata ini bukan kali pertama insiden seperti ini terjadi di Puskesmas Perak. Menurut informasi yang dihimpun, kejadian ambrolnya plafon telah terjadi sebelumnya. Bangunan puskesmas diketahui baru dibangun pada tahun 2023 dan resmi diserahkan ke pihak pengelola akhir tahun yang sama. Dengan usia bangunan yang belum genap dua tahun, insiden ini menimbulkan tanda tanya besar soal kualitas konstruksi dan pengawasan proyek tersebut.
Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan segera mengambil langkah tegas, tidak hanya untuk memperbaiki fasilitas yang rusak, tetapi juga memastikan kejadian serupa tidak terulang di fasilitas kesehatan lainnya. Terlebih, keselamatan pasien harus menjadi prioritas utama dalam pelayanan publik. (yd)
