“Pelebaran Jalan Jatigedong-Jatibanjar Selesai, Namun Jembatan Sempit Masih Jadi Kendala”
Jombang – Proyek pelebaran jalan Jatigedong-Jatibanjar yang baru saja selesai melalui program Inpres Jalan Daerah (IJD) 2024 masih meninggalkan persoalan besar. Meskipun jalan di ruas tersebut telah diperlebar dan dicor dengan beton, jembatan yang terletak di Desa Jatigedong, Kecamatan Ploso, tidak ikut diperlebar. Kondisi ini menyebabkan jalan yang sudah lebih lebar kembali menyempit ketika melintasi jembatan, menciptakan titik kemacetan.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Jombang, Agung Setiaji, menjelaskan bahwa jembatan tersebut tidak termasuk dalam skema pengerjaan pada proyek pelebaran jalan yang didanai pusat. “Pelebaran jalan memang sudah selesai, tetapi jembatan yang hanya memiliki lebar sekitar tiga meter tidak masuk dalam rencana pengerjaan. Akibatnya, meskipun jalan sudah lebih lebar, pengendara tetap mengalami kesulitan saat melewati jembatan,” ujar Agung.
Masyarakat yang melintasi ruas jalan ini kini harus berhati-hati, terutama saat kendaraan melintas berlawanan arah. Jembatan sempit memaksa pengendara, baik sepeda motor maupun kendaraan roda empat, untuk bergantian lewat, yang berpotensi menambah waktu perjalanan dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Menurut Agung, Pemkab Jombang telah berupaya mencari dana tambahan untuk memperlebar jembatan tersebut. Namun, keterbatasan anggaran daerah membuat proyek ini belum bisa terealisasi dalam waktu dekat. “Di perubahan anggaran APBD 2025 sudah tidak memungkinkan karena ada refocusing anggaran untuk program prioritas lainnya,” terang Agung.
Sebagai solusi jangka panjang, Pemkab berharap agar proyek pelebaran jembatan dapat didukung oleh pemerintah pusat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). “Kami sudah mengusulkan proyek ini kepada pusat, namun hingga kini belum ada jawaban resmi mengenai tindak lanjutnya,” tambah Agung.
Meski demikian, Pemkab Jombang tetap berkomitmen untuk melanjutkan perbaikan infrastruktur jalan, meskipun pengerjaan pelebaran jembatan harus dilakukan secara bertahap sesuai dengan ketersediaan anggaran yang ada. “Kami memahami kekhawatiran masyarakat dan berjanji akan terus berupaya mencari solusi terbaik untuk memperbaiki kondisi ini,” jelas Agung.
Proyek yang diimplementasikan oleh PT Liman Jaya Trans Mix ini mencakup perbaikan jalan yang sebelumnya rusak parah, dengan mengganti material aspal menjadi beton rigid. Lebar jalan yang semula hanya enam meter kini telah ditambah menjadi delapan meter, dengan tambahan bahu jalan sepanjang satu meter di kedua sisi. Walaupun perbaikan jalan memberi dampak positif pada kelancaran lalu lintas, perbaikan jembatan tetap menjadi tantangan utama yang harus segera ditangani.
Jalan Jatigedong-Jatibanjar sendiri merupakan jalur vital yang menghubungkan Kecamatan Ploso dengan Kecamatan Kabuh. Kedua kecamatan tersebut memiliki tingkat mobilitas tinggi, sehingga peningkatan infrastruktur jalan dan jembatan sangat diperlukan untuk mendukung kelancaran transportasi serta keselamatan pengendara.
Pemkab Jombang berharap, dengan adanya dukungan dari pemerintah pusat, jembatan yang sempit ini dapat segera diperlebar, dan masalah bottleneck yang terjadi bisa teratasi. Masyarakat diharapkan dapat bersabar, sementara pihak pemerintah terus berkomitmen untuk melanjutkan pembangunan infrastruktur yang lebih baik.(*)
Editor : Adm
