Info DaerahPolitics

Krisis Kepercayaan di Pati: Warga Galang Donasi Tolak Kenaikan PBB, Situasi Memanas di Alun-Alun

Share

Pati – Ketegangan antara masyarakat dan pemerintah daerah Kabupaten Pati mencuat ke permukaan, setelah aksi penggalangan dana untuk unjuk rasa penolakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB-P2) berujung ricuh di kawasan Alun-Alun Pati, Selasa (5/8/2025).

Aksi yang diinisiasi oleh kelompok masyarakat bernama *Masyarakat Pati Bersatu* itu dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan Bupati Pati, Sudewo, yang menaikkan tarif PBB-P2 hingga 250 persen. Kebijakan tersebut dinilai membebani rakyat di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Donasi dari Rakyat, Aksi untuk Rakyat

Sejak Jumat (1/8), warga telah mendirikan posko donasi tepat di depan Kantor Bupati. Posko tersebut memanfaatkan sebuah ambulans, lengkap dengan spanduk, kardus ajakan donasi, dan tumpukan ratusan dus air mineral dari sumbangan warga.

“Aksi ini lahir dari keresahan. Ini murni gerakan rakyat, bukan kepentingan politik,” tegas Ahmad Husein, koordinator aksi.

Aparat Tertibkan Posko, Massa Meradang

Ketegangan terjadi saat aparat Satpol PP mendatangi posko dan meminta agar dipindahkan karena kawasan Alun-Alun akan digunakan untuk perayaan Hari Jadi ke-702 Kabupaten Pati serta HUT ke-80 RI. Namun permintaan itu ditolak warga.

Pihak Satpol PP kemudian mengangkut sejumlah kardus air mineral ke atas truk, yang langsung memicu emosi massa. Salah satu tokoh aksi, Supriyono, bahkan nekat naik ke truk dan melemparkan kardus-kardus kembali ke jalan.

Situasi kian panas ketika Plt Sekda Kabupaten Pati, Riyoso, dan Plt Kasatpol PP, Sriyatun, turun langsung ke lokasi.

“Di bawah videotron tidak diperbolehkan menurut peraturan ketertiban umum. Ini area publik, bukan tempat untuk aksi jangka panjang,” tegas Sriyatun.

Namun Husein tetap bersikeras mempertahankan posko, dan bahkan menolak segala upaya pemindahan, kecuali ke dalam kompleks Kantor Bupati.

BACA JUGA :  Polsek Ngusikan Berkolaborasi dengan Petani Wujudkan Ketahanan Pangan

Dari Perdebatan Menuju Konfrontasi

Puncak ketegangan terjadi saat perdebatan antara Riyoso dan warga nyaris berujung konfrontasi fisik. Supriyono, yang emosinya memuncak, mendorong Riyoso sambil menuduh pemerintah daerah tidak berpihak pada rakyat kecil.

“Sudewo tantang 50 ribu orang demo? Hari ini kami buktikan rakyat siap bergerak!” teriak Supriyono.

Aksi dorong-dorongan sempat terjadi, namun berhasil diredam aparat yang berjaga. Riyoso kemudian memilih meninggalkan lokasi untuk menghindari eskalasi dan melanjutkan agenda rapat paripurna di DPRD Pati.

Massa Ancam Duduki DPRD Jika Tuntutan Diabaikan

Tidak berhenti di situ, massa mengancam akan menduduki Gedung DPRD Pati jika kebijakan PBB-P2 tidak dibatalkan. Mereka juga menuntut agar kardus-kardus air mineral hasil sumbangan dikembalikan sepenuhnya.

“Kami akan tetap di sini sampai tanggal 13 Agustus. Kami tidak akan diam melihat kebijakan yang menyengsarakan rakyat,” ucap Husein.

Bupati Masih Bergeming

Sebelumnya, Bupati Pati Sudewo sempat menyatakan bahwa ia tidak akan gentar meski didemo puluhan ribu orang. Ia menegaskan bahwa kebijakan kenaikan PBB adalah keputusan yang tidak akan diubah.

Pernyataan ini justru menyulut semangat perlawanan masyarakat. Aksi unjuk rasa besar-besaran pun telah dijadwalkan berlangsung pada 13 Agustus mendatang. (*)

Editor : adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *