Editorial Headshot : Antara Chromebook dan Retorika Transformasi: Ujian Akuntabilitas Nadiem Makarim
Oleh Redaksi Headshot Media
Pencekalan mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim oleh Kejaksaan Agung selama enam bulan ke depan atas dugaan korupsi proyek pengadaan Chromebook senilai Rp 9,9 triliun membuka babak baru dalam narasi transformasi pendidikan Indonesia: narasi yang selama ini dibingkai oleh jargon “digitalisasi”, “merdeka belajar”, dan “inovasi sistemik”.
Kenyataan bahwa seorang eks menteri dengan citra reformis seperti Nadiem harus duduk selama 12 jam di ruang penyidikan Gedung Bundar, menandakan bahwa problem tata kelola tak otomatis terselesaikan oleh niat baik, apalagi oleh retorika teknologi semata.
Digitalisasi Tak Menjamin Demokratisasi
Program pengadaan Chromebook merupakan bagian dari agenda besar Kemendikbudristek dalam mendorong digitalisasi sekolah, terutama selama dan setelah pandemi COVID-19. Secara teori, laptop murah dan konektivitas adalah solusi. Namun secara praktik, proyek ini menghadirkan serangkaian masalah: dugaan mark-up, spesifikasi tak sesuai, distribusi tak merata, dan keterlibatan vendor-vendor misterius.
Digitalisasi yang seharusnya memperluas akses justru menjadi kendaraan baru praktik rente. Ia tak ubahnya proyek tambal sulam, di mana teknologi dikomodifikasi menjadi “komoditas politik”—bukan alat pembebasan siswa dan guru.
Di sinilah titik kritis Nadiem sebagai pemimpin. Visi pendidikan berbasis teknologi membutuhkan dua hal utama: kejelasan roadmap dan transparansi pengadaan. Ketika yang terjadi justru sebaliknya, maka pertanyaan yang layak diajukan adalah: seberapa dalam Nadiem tahu dan seberapa jauh ia bertanggung jawab?
Retorika vs Realitas
Selama menjabat, Nadiem Makarim dikenal sebagai menteri muda yang membawa semangat disruptif ke birokrasi pendidikan. Tapi dalam konteks kasus ini, semangat itu justru menghadapi paradoks. Ia menciptakan sistem baru, tapi tetap menggunakan logika proyek lama: top-down, vendor-oriented, dan rentan konflik kepentingan.
Transformasi digital—bila tanpa etika dan transparansi—hanya menjadi hiasan PowerPoint. Chromebook di sekolah-sekolah hanya menjadi barang mati, jika tidak digunakan sebagaimana mestinya atau tidak sampai ke siswa sasaran. Yang lebih parah, ia menjadi jejak anggaran yang sulit ditelusuri—sebuah tanda lemahnya pengawasan internal dan eksternal kementerian.
Jika Nadiem tidak tahu soal mark-up, maka itu mencerminkan kelemahan manajerial. Jika tahu dan membiarkan, maka itu bentuk kelalaian. Dan jika tahu serta terlibat, maka itu pelanggaran etis sekaligus hukum.
Merdeka Belajar, Tersandera Politik Anggaran
Kasus ini menelanjangi satu kenyataan penting: kebijakan pendidikan di Indonesia masih terlalu bergantung pada proyek-proyek anggaran besar, bukan perubahan sistemik yang berpihak pada guru, siswa, dan ruang belajar.
Program “Merdeka Belajar” seharusnya menciptakan ruang otonomi dan emansipasi dalam pendidikan. Namun dalam praktik, jargon ini tidak kebal terhadap kooptasi kepentingan birokrasi dan bisnis. Proyek Chromebook menjadi bukti bahwa transformasi bisa tersandera, bahkan dikorupsi, jika tidak diawasi.
Di titik ini, DPR, BPK, dan publik harus memperkuat fungsi kontrol. Jangan sampai kasus ini selesai hanya pada level staf atau vendor, tanpa menyentuh aktor pengambil kebijakan. Jika pencekalan Nadiem hanya menjadi simbol kehati-hatian politik, bukan keseriusan penyidikan, maka sekali lagi hukum kita gagal membedakan popularitas dengan pertanggungjawaban.
Penutup: Saatnya Menagih Etika Kepemimpinan
Pendidikan bukan hanya soal kurikulum dan alat belajar, tapi juga tentang etika publik dalam mengelola amanah rakyat. Kasus Chromebook adalah panggilan untuk membongkar pola-pola lama yang bersembunyi di balik wajah muda dan jargon modern.
Nadiem boleh saja menyebut dirinya sebagai saksi, dan mungkin secara hukum memang belum terbukti bersalah. Tapi di mata publik, transformasi yang ia gaungkan sedang mengalami krisis legitimasi. Bukan karena laptop-nya gagal menyala, tapi karena kejujuran sistemnya tidak lagi menyala.
Headshot Media | Kritis. Kontekstual. Menyala.
