Info Daerah

BUMDesma Denanyar Mandek, Aset Hilang, Uang Rp 1 Miliar Amblas: Direktur Salahkan Lalat dan Anak Kandang

Share

Jombang – Proyek peternakan BUMDesma (Badan Usaha Milik Desa Bersama) di Desa Denanyar, Kecamatan Jombang, yang dibentuk dengan gelontoran anggaran nyaris Rp 1 miliar, kini tinggal puing. Tidak hanya mati total, bangunan kandang dan instalasi biogas terbengkalai, sementara sapi dan ayam bantuan dari pemerintah pusat sudah raib tanpa bekas.

Kepada wartawan, Abdul Rosyid selaku Direktur BUMDesma akhirnya buka suara. Ia mengakui bahwa semua bantuan dari Kemendes PDTT, baik sapi maupun ayam petelur, kini sudah tidak ada. Menurutnya, program peternakan itu gagal karena berbagai sebab. Salah satu yang paling menggelikan: keluhan warga soal bau kotoran dan serbuan lalat.

“Sejak April kegiatan kami hentikan. Warga sekitar mengeluh bau dan lalat, lalu hasil usaha juga rugi terus,” ujar Rosyid, Jumat (18/7).

Rosyid menyebut, ayam petelur yang sempat dikembangbiakkan dalam jumlah ratusan ekor mati massal akibat wabah flu burung (avian influenza/AI). Sementara sapi, yang awalnya berjumlah 10 ekor, sebagian mati karena diduga kurangnya tanggung jawab dari penjaga kandang.

“Enam sapi mati, sebagian karena lalai dijaga. Ayam banyak mati kena flu burung. Sisanya, kami jual untuk menutup biaya operasional,” imbuh Rosyid.

Ia berdalih bahwa kerugian terus membengkak, sementara pendapatan dari hasil peternakan tak sebanding dengan biaya perawatan dan pakan. Bahkan ia mengaku, saat ini kegiatan BUMDesma benar-benar berhenti dan kas tersisa pun tidak bisa disebutkan secara pasti.

“Dana masih ada sedikit, tapi belum ada kegiatan. Kami sedang analisa usaha baru,” ucapnya singkat.

Miliaran Dana Desa dan Pusat Menguap, Ke Mana Arah Pengawasan?

Seperti diberitakan sebelumnya oleh Headshot Media, proyek BUMDesma Denanyar ini mendapat dua sumber pendanaan besar: Rp 500 juta dari Kementerian Desa PDTT untuk pembangunan kandang, pengadaan sapi dan ayam, serta biogas; ditambah Rp 500 juta lagi dari penyertaan modal sepuluh desa anggota BUMDesma yang diambil dari Dana Desa (DD)—masing-masing desa menyetor Rp 50 juta.

BACA JUGA :  Menko Pangan Zulkifli Hasan Hadiri Wisuda UNWAHA Jombang, Dorong 600 Sarjana Berani Hadapi Tantangan Kehidupan

Namun kini, semua aset fisik yang bersumber dari uang rakyat tersebut menghilang begitu saja tanpa transparansi keuangan yang jelas. Tidak ada laporan pertanggungjawaban resmi, tidak ada audit terbuka, bahkan kepala desa penyerta modal pun mengaku tidak tahu-menahu soal perkembangan program.

“Memang sudah tidak berfungsi. Pernah dirapatkan, tapi saya tidak hadir,” ujar Masrum, Kepala Desa Bedahlawak, salah satu desa yang ikut menyertakan modal.

Program Tanpa Kontrol, Akuntabilitas Hanyut Bersama Lalat

Kegagalan proyek ini menampar wajah program pembangunan desa yang seharusnya berbasis kemandirian dan transparansi. Minimnya kontrol dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Jombang serta lemahnya fungsi pengawasan dari para kepala desa dan pihak legislatif membuat uang rakyat kembali jadi korban percobaan proyek asal jalan.

Dalih Rosyid soal bau kandang dan lalat bisa jadi adalah puncak dari gunung es ketidakseriusan tata kelola BUMDesma. Apalagi jika kematian ternak dan penjualan aset dilakukan tanpa mekanisme pelaporan formal. Sementara publik dibiarkan hanya menyaksikan bangunan kosong dan tumpukan kerugian.

Dalam konteks ini, penting untuk menagih akuntabilitas para pihak: dari DPMD yang mestinya membina dan mengevaluasi, kepala desa yang menyetor modal, hingga pengurus BUMDesma yang mengelola anggaran. Sebab jika tidak, BUMDesma hanya akan menjadi proyek seremonial berulang yang menjebak desa dalam jerat utang moral tanpa hasil.

Headshot Media terus mendorong transparansi dan pengusutan lebih jauh atas dana yang telah digelontorkan dalam proyek ini. Sebab uang negara tak boleh lenyap hanya karena alasan lalat, kandang bau, dan anak kandang malas.

Editor : adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *