Pesta Miras Oplosan di Karnaval Sound Horeg Kediri Berujung Tragedi: Tiga Anggota Keluarga Tewas
Kediri, 30 Juli 2025 – Sebuah tragedi memilukan terjadi di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, setelah tiga anggota keluarga meninggal dunia pasca mengikuti pesta miras oplosan yang berlangsung di tengah karnaval sound horeg pada akhir pekan lalu. Kejadian ini menambah polemik terkait fenomena sound horeg yang semakin marak, dengan banyaknya kritik dari berbagai pihak yang khawatir akan dampak sosial dan kesehatan dari acara tersebut.
Pada Sabtu (26/7/2025), karnaval sound horeg yang berlangsung di Desa Kepung, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, menarik perhatian ribuan warga setempat. Sound horeg, sebuah fenomena khas Indonesia, melibatkan sistem pengeras suara berdaya besar yang biasa dipasang pada kendaraan roda empat, biasanya mobil pikap, yang menghasilkan suara dengan getaran yang kuat. Namun, bagi beberapa warga, karnaval ini juga menjadi ajang untuk berkumpul dan mengonsumsi minuman keras (miras) oplosan.
Di antara mereka yang hadir adalah Purnomo (43) bersama dua keponakannya, Deta Wirapratma (23) dan Agung Winarko (21), yang berasal dari Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Ketiganya diketahui mengonsumsi miras oplosan sambil menikmati suara keras dari sound horeg. Tak lama setelahnya, mereka mengalami mual dan pusing, yang membuat mereka dilarikan ke Rumah Sakit Kabupaten Kediri (RSKK) untuk mendapatkan perawatan medis.
Meninggal Dunia Secara Beruntun
Sayangnya, meski sempat mendapatkan perawatan intensif, Purnomo menjadi korban pertama yang meninggal pada Senin (28/7/2025). Deta Wirapratma, yang juga dalam kondisi kritis, meninggal pada Selasa dini hari (29/7/2025), sementara Agung Winarko, adik Deta, menghembuskan napas terakhir pada Selasa sore. Kematian ketiganya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga dan masyarakat sekitar.
Penyelidikan Terkait Kandungan Miras Oplosan
Kasatreskrim Polres Kediri, AKP Joshua Peter Krisnawan, mengonfirmasi bahwa pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai penyebab kematian korban. “Kami tengah menunggu hasil autopsi untuk mengetahui kandungan zat dalam miras yang mereka konsumsi. Semua proses penyelidikan kami lakukan dengan berbasis pada bukti ilmiah,” ungkapnya.
Polisi juga menyelidiki asal muasal miras oplosan yang dikonsumsi ketiga korban tersebut, meski pihak keluarga tidak dapat memberikan keterangan lebih lanjut mengenai lokasi dan siapa yang menyediakan minuman berbahaya itu.
Fenomena Sound Horeg: Antara Tradisi dan Kontroversi
Karnaval sound horeg sebenarnya merupakan bagian dari tradisi budaya yang sudah berlangsung lama di sejumlah daerah di Jawa Timur, termasuk Kediri. Namun, acara yang sering kali disertai dengan musik keras, tarian erotis, serta konsumsi miras, menjadi kontroversial setelah beberapa kalangan ulama dan masyarakat menilai acara tersebut tidak mencerminkan norma-norma sosial yang sehat.
Pada Juni 2025, Pondok Pesantren Besuk Pasuruan mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa sound horeg mengandung kemungkaran karena berpotensi merusak moral, mengundang pergaulan bebas, dan mengarah pada penyalahgunaan narkoba serta miras. Para ulama bahkan meminta pemerintah untuk mengatur acara sound horeg dengan ketat agar tidak membahayakan masyarakat.
Sebagai respons terhadap protes ini, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Dardak, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah menggelar rapat dengan Polda Jatim, MUI, dan pakar kesehatan untuk merumuskan regulasi yang lebih jelas terkait penyelenggaraan sound horeg. “Kami memahami pentingnya keberagaman budaya lokal, namun tentu harus ada batasan yang mengedepankan kesehatan, keselamatan, dan moral masyarakat,” jelas Emil Dardak.
Regulasi Baru Sedang Dibahas
Seiring dengan meningkatnya popularitas sound horeg, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah membentuk tim khusus untuk merumuskan peraturan yang lebih ketat. Beberapa usulan yang sedang dibahas antara lain adalah pembatasan volume suara, pengaturan dimensi kendaraan, serta penetapan zona-zona tertentu untuk penyelenggaraan acara ini.
Selain itu, ada pula rencana untuk membatasi jumlah konsumsi miras di acara tersebut agar tidak menimbulkan kerugian bagi peserta dan masyarakat sekitar.
Karnaval Kemerdekaan yang Semakin Marak
Dengan semakin mendekatnya peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia pada Agustus mendatang, karnaval sound horeg diperkirakan akan semakin marak. Untuk itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berharap regulasi terkait acara ini segera rampung agar dapat diterapkan sebelum perayaan besar tersebut.
Sebagai langkah preventif, pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam mengikuti acara yang berpotensi membahayakan kesehatan dan keselamatan diri.
Keluarga Korban Meminta Kejelasan
Pihak keluarga korban, melalui kerabatnya Subakri (55), berharap agar pihak berwajib segera mengungkap penyebab pasti dari kematian ketiga anggota keluarga tersebut. “Kami hanya ingin keadilan untuk keluarga kami. Kami berharap pihak berwenang dapat menuntaskan penyelidikan ini,” ujar Subakri.
Kisah ini menjadi pengingat bagi masyarakat akan pentingnya kesadaran terhadap bahaya miras oplosan dan pengaruh negatif dari konsumsi minuman beralkohol di acara-acara yang tidak terkontrol. (*)
Editor : adm
