3.707 Buruh Pabrik Rokok di Jombang Akan Terima BLT Rp 1,2 Juta, Hanya untuk yang Ber-KTP Lokal
Jombang – Headshot Media
Kabar gembira datang bagi ribuan buruh pabrik rokok di Kabupaten Jombang. Sebanyak 3.707 pekerja dipastikan akan menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) masing-masing senilai Rp 1.200.000 per orang. Bantuan ini diberikan sebagai bentuk kehadiran negara di tengah tingginya tekanan ekonomi rumah tangga buruh, khususnya mereka yang bekerja di sektor industri padat karya seperti pabrik rokok.
Namun, bantuan ini tidak untuk semua buruh. Hanya mereka yang memiliki KTP Jombang yang masuk daftar penerima.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Jombang, Isawan Nanang Risdiyanto, menjelaskan bahwa data penerima berasal langsung dari pihak perusahaan tempat para buruh bekerja. Pihak Disnaker, lanjutnya, berperan dalam proses verifikasi dan validasi, sebelum data final diserahkan kepada Dinas Sosial untuk penyaluran.
“Untuk penerima BLT buruh pabrik rokok tahun ini ada 3.707 orang. Semua datanya kami terima dari perusahaan masing-masing, namun kami pastikan hanya karyawan yang ber-KTP Jombang yang bisa menerima,” ungkap Isawan kepada wartawan Headshot Media, Kamis (12/6).
Bagi buruh yang tidak memiliki KTP Jombang, nasib mereka sedikit berbeda. Mereka tetap bisa diusulkan, namun pengajuan bantuan dilakukan melalui skema provinsi. Menurut Isawan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga menyediakan skema bantuan serupa untuk buruh lintas wilayah, meski dengan alur dan kuota yang berbeda.
“Ini adalah tahun kelima pelaksanaan program ini. Kami dari Disnaker hanya bertugas sebagai jembatan antara perusahaan dan pemerintah. Verifikasi kami lakukan ketat agar tidak ada penyalahgunaan,” jelasnya.
Isawan juga menyebut sejumlah pabrik rokok yang menyumbang jumlah penerima terbesar di Jombang, seperti:
- Pabrik Rokok Mufasufu dan Jaya Lestari: total 1.151 buruh penerima
- Pabrik Rokok 117: 112 buruh
- Pabrik Rokok Sehat Tentrem: 650 buruh
- Serta pabrik-pabrik rokok lainnya yang jumlahnya tersebar di berbagai kecamatan.
“Alhamdulillah semua sudah kami verifikasi satu per satu, dan sejauh ini semua masuk kategori layak,” tambah Isawan.
Program BLT untuk buruh pabrik rokok ini menggunakan alokasi dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT), yang salah satu peruntukannya memang ditujukan untuk mendukung kesejahteraan buruh industri rokok, sekaligus mendorong terciptanya ekosistem industri yang lebih manusiawi.
Bagi para buruh, bantuan tunai ini bisa menjadi nafas tambahan di tengah gelombang kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan anak, hingga cicilan rumah tangga. Meski jumlahnya tak besar, Rp 1,2 juta bisa berarti banyak bagi keluarga buruh dengan upah harian yang kerap tak menentu.
Kehadiran bantuan ini juga menjadi pengingat bahwa nasib para buruh, khususnya buruh rokok, belum pernah benar-benar baik. Mereka bekerja dalam tekanan produksi tinggi, upah yang pas-pasan, dan minim jaminan sosial, sementara kontribusi mereka terhadap ekonomi daerah sangat besar. Di balik asap yang mengepul dari pabrik-pabrik itu, ada cerita tentang keringat, ketekunan, dan harapan untuk hidup yang lebih layak.
Namun satu catatan penting: tidak semua buruh bisa menikmati BLT ini. Mereka yang tidak memiliki administrasi kependudukan Jombang, meski telah lama bekerja di pabrik-pabrik lokal, harus menunggu tangan panjang dari pemerintah provinsi. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan data kependudukan masih menjadi penghalang distribusi keadilan bantuan sosial.
Program ini bisa jadi solusi jangka pendek, namun untuk jangka panjang, buruh butuh lebih dari sekadar BLT. Mereka butuh jaminan kerja, upah layak, lingkungan kerja sehat, serta akses pelatihan untuk naik kelas. Selama itu belum terpenuhi, bantuan tunai hanyalah perban sementara untuk luka yang lebih dalam.
— (Yudi-Andika)
Reporter: Tim Headshot Media | Foto: Istimewa
