Remaja Jombang Rawat Nenek Lumpuh Sejak Kecil, DPRD Turun Tangan Memastikan Mendapat Fasilitas Kesehatan dan Pendidikan
Jombang, Headshot Media — Di balik gang sempit Desa Kepatihan, Kecamatan Jombang, tersimpan kisah menggetarkan hati tentang pengorbanan dan keteguhan seorang remaja putri. Namanya Alfita Surya Dewi, 15 tahun, siswi kelas 9 SMP Negeri 1 Jombang, yang sejak kecil memilih merawat sang nenek lumpuh ketimbang menikmati masa remajanya seperti anak-anak lain seusianya.
Alfita tinggal berdua dengan neneknya, Saripah (80), di rumah sederhana yang tak bisa diakses kendaraan roda empat. Sehari-hari ia harus membagi waktu antara belajar dan merawat sang nenek yang tak lagi bisa berjalan akibat osteoporosis. Sejak duduk di bangku kelas 5 SD, Alfita sudah menjalani peran dewasa dalam hidupnya.
“Ibu saya meninggal saat melahirkan saya dan saudara kembar saya. Sejak itu, saya ikut nenek,” tuturnya kepada Headshot Media, Minggu (1/6).
Kehidupan Alfita jauh dari kata mudah. Namun di mata warga sekitar, ia dikenal sebagai sosok yang tabah dan berbakti. Tak pernah mengeluh, meski harus memikul beban yang tidak ringan. Semangat belajarnya tetap tinggi, bahkan ia menaruh harapan besar untuk bisa melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 2 Jombang.
Kisah Alfita yang menyentuh ini akhirnya mengetuk perhatian Wakil Ketua DPRD Jombang Donny Anggun. Ia bersama Kepala Desa Kepatihan, Erwin Pribadi, mendatangi langsung rumah Alfita untuk memastikan hak-hak dasar keduanya tidak terabaikan.
“Kami tidak ingin mereka terlewat dari jangkauan layanan negara. Nenek Saripah harus mendapatkan akses kesehatan yang layak, dan Alfita harus bisa melanjutkan sekolah,” tegas Donny.
Dalam kunjungan tersebut, ditemukan fakta bahwa Kartu Indonesia Sehat (KIS) milik Saripah masih berstatus non-PBI (Penerima Bantuan Iuran), sehingga selama ini nenek renta itu harus membayar iuran BPJS secara mandiri. Donny menyebut pihaknya langsung berkoordinasi dengan dinas terkait agar status Saripah dialihkan ke PBI agar mendapat layanan gratis.
Sementara untuk pendidikan, Alfita telah tercatat sebagai penerima Program Indonesia Pintar (PIP) serta bantuan pendidikan tambahan dari sekolah dan pemerintah desa.
Kepala Desa Erwin Pribadi mengaku telah sejak lama memberi perhatian khusus kepada Alfita dan neneknya, bahkan melalui dana pribadi.
“Kami pantau terus kondisinya. Saya pribadi beberapa kali membantu sembako dan perlengkapan sekolah. Kami juga libatkan warga sekitar untuk turut peduli,” ujar Erwin.
Pantauan Headshot Media di lokasi, rumah yang ditempati Alfita dan neneknya tampak bersih namun nyaris tanpa perabot. Di ruang tamu hanya ada sebuah tikar dan kursi roda tua milik Saripah. Saat menerima kunjungan dari DPRD dan perangkat desa, Alfita menyambut sendiri. Neneknya sudah tak lagi mampu keluar kamar karena kondisi fisiknya semakin melemah.
“Saya biasanya masih bisa ke depan pakai kursi roda. Tapi sekarang kaki saya sakit,” lirih nenek Saripah dari balik kamar.
Alfita merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakaknya kini ikut ayah yang telah menikah lagi, sementara saudara kembarnya tinggal bersama kerabat ibu di Surabaya. Sejak kecil, ia sudah terbiasa hidup dengan pilihan sulit: tumbuh dalam keterbatasan, namun tetap memelihara semangat dan kasih sayang.
Kisah Alfita menjadi gambaran nyata bahwa ketangguhan tidak mengenal usia. Ia tidak hanya butuh uluran tangan, tetapi juga keberpihakan nyata dari sistem sosial dan pemerintahan. Harapannya, perhatian dari berbagai pihak tak sekadar berakhir sebagai kunjungan seremonial, tetapi menjadi titik awal perubahan hidup yang lebih baik bagi Alfita dan neneknya. (yud)
