Info Daerah

Jalur Kereta Jombang–Babat–Tuban Masuk Radar Reaktivasi Nasional, Warga Harap Jalur Legendaris Hidup Lagi

Share

JOMBANG, Headshot Media – Harapan masyarakat untuk melihat lagi deru lokomotif di jalur legendaris Jombang–Babat–Tuban tampaknya bukan sekadar mimpi. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan memasukkan lintasan tersebut ke dalam daftar proyek reaktivasi nasional yang tengah digodok.

Namun, hingga kini pihak PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 7 Madiun belum menerima instruksi resmi mengenai rencana tersebut.
“Untuk perihal itu, sejauh ini kami belum mendapat pemberitahuan secara resmi,” ujar Manager Humas KAI Daop 7 Madiun, Rokhmad Makin Zainul, saat dikonfirmasi, Kamis (9/10/2025).

Jalur Jombang–Babat–Tuban merupakan salah satu lintasan tua peninggalan masa Hindia Belanda. Dahulu, jalur ini menjadi urat nadi ekonomi yang menghubungkan kawasan agraris Jombang dengan pelabuhan di Tuban. Namun sejak 1980-an, jalur ini berhenti beroperasi seiring turunnya minat penumpang dan efisiensi angkutan darat lain.

Kini, pemerintah menilai jalur tersebut memiliki potensi besar untuk mendukung distribusi logistik dan mobilitas penduduk antarwilayah di Jawa Timur bagian barat.

Jalur Jombang–Babat–Tuban termasuk dalam 13 lintasan nonaktif yang akan dihidupkan kembali oleh pemerintah. Beberapa jalur lain yang masuk daftar reaktivasi meliputi:

  • Sukabumi–Cianjur–Padalarang,
  • Cicalengka–Jatinangor–Tanjungsari,
  • Cirebon–Kadipaten,
  • Banjar–Cijulang,
  • Purwokerto–Wonosobo, dan
  • Kedungjati–Ambarawa.

Menurut Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api DJKA, Arif Anwar, proyek ini merupakan bagian dari upaya memperluas jaringan perkeretaapian nasional yang terintegrasi. “Reaktivasi jalur-jalur lama bertujuan untuk membuka kembali akses ekonomi dan transportasi yang selama ini tertidur,” ujarnya.

Pemerintah menargetkan hingga tahun 2030 panjang total jalur KA di Indonesia mencapai 10.524 kilometer, dengan 3.755 kilometer di antaranya berupa jalur perkotaan.

Rinciannya meliputi:

  • Sumatera: 2.900 km (dari eksisting 1.854 km),
  • Kalimantan: 1.200 km,
  • Jawa, Madura, dan Bali: 5.590 km (dari eksisting 4.921 km),
  • Sulawesi: 734 km, dan
  • Papua: 100 km.
BACA JUGA :  Menko Pangan Zulkifli Hasan Hadiri Wisuda UNWAHA Jombang, Dorong 600 Sarjana Berani Hadapi Tantangan Kehidupan

Upaya ini menjadi bagian dari Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS) yang diarahkan untuk menciptakan konektivitas antardaerah secara berkelanjutan.

Di Jombang sendiri, sejumlah kalangan menyambut baik rencana reaktivasi ini. Selain membuka peluang ekonomi baru, jalur tersebut diyakini akan mengurangi kepadatan lalu lintas di jalur arteri Jombang–Lamongan–Tuban.
“Kalau jalur kereta ini benar-benar aktif lagi, tentu dampaknya luar biasa bagi warga. Banyak desa yang dulu dilewati rel sekarang berkembang, bisa jadi pusat ekonomi baru,” kata Slamet (52), warga Kecamatan Diwek, yang tinggal tak jauh dari bekas rel lama.

Meski sudah tercantum dalam daftar reaktivasi nasional, sejumlah pihak berharap pemerintah segera menetapkan peta jalan yang jelas. Hingga kini, proses masih berada pada tahap kajian dan pendataan aset jalur lama.

Bagi masyarakat Jombang hingga Tuban, reaktivasi ini bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi pemulihan sejarah transportasi yang sempat terhenti selama puluhan tahun.

“Semoga rel tua yang pernah jadi saksi kejayaan ekonomi daerah ini bisa kembali hidup,” ujar Slamet, menutup harapannya.(*)

Editor : Adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *