Harga Gabah Masih di Bawah HPP, Bupati Jombang Bakal Libatkan TNI-Polri dan Dorong Penjualan ke Bulog

Headshot Media Jombang – Bupati Jombang, Warsubi, menyatakan bahwa harga jual gabah hasil panen petani di wilayahnya saat ini masih belum mencapai Harga Pokok Penjualan (HPP) yang ditetapkan pemerintah, yakni sebesar Rp6.500 per kilogram. Hal ini disebabkan oleh banyaknya petani yang masih memilih menjual hasil panennya kepada tengkulak karena keterbatasan akses langsung ke Badan Urusan Logistik (Bulog).
Menurut Warsubi, salah satu kendala utama adalah belum optimalnya penyerapan gabah oleh Bulog. Banyak petani kecil yang tidak terakomodir karena tidak memiliki volume panen yang mencukupi untuk langsung menjual ke lembaga tersebut. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Jombang akan mengambil sejumlah langkah strategis guna meningkatkan serapan gabah petani.
Libatkan TNI, Polri, dan Kepala Desa
Dalam rangka mengoptimalkan penyaluran gabah ke Bulog, Bupati Warsubi mengungkapkan bahwa pihaknya akan menggandeng TNI dan Polri untuk turut serta dalam proses pengawasan dan pelaporan hasil panen. Selain itu, peran kepala desa juga akan diintensifkan guna membantu mengorganisasi petani di tingkat desa.
“Nanti akan kami libatkan TNI dan Polri sebagai bagian dari pengawasan. Selain itu, kepala desa akan kita dorong agar bisa mengkoordinasikan kelompok petani. Misalnya, setiap 10 petani dikumpulkan dan hasil panennya dijual bersama ke Bulog,” jelas Warsubi saat menghadiri panen raya di Desa Plosogeneng, Kecamatan Jombang, Senin (7/4/2025).
Langkah ini dinilai efektif, mengingat banyak petani yang hanya memanen dalam skala kecil, antara 200 hingga 300 ru (ruas), yang membuat mereka kesulitan untuk menjangkau Bulog secara langsung.
Penguatan Sistem melalui Pelaporan Terpadu
Bupati Warsubi juga menyebut bahwa peran TNI dan Polri tidak hanya terbatas pada pengawasan, namun juga akan difungsikan untuk menyusun laporan hasil panen yang nantinya disampaikan kepada Bulog. Dengan adanya laporan resmi, diharapkan Bulog dapat segera menindaklanjuti dan melakukan pembelian gabah secara langsung kepada petani.
“Kami akan fasilitasi kerja sama dengan aparat agar laporan hasil panen dapat segera diterima Bulog. Ini langkah strategis agar serapan lebih cepat dan petani tidak merugi,” imbuhnya.
Dukungan Melalui Koperasi Desa Merah Putih
Sebagai bagian dari upaya jangka menengah, Pemkab Jombang juga akan mendukung pembentukan dan penguatan Koperasi Desa Merah Putih, sebuah program inisiasi pemerintah pusat yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto. Melalui koperasi ini, penyerapan gabah di tingkat desa diharapkan bisa lebih optimal.
“Koperasi ini nanti kami harapkan punya alat combine dan dryer sendiri, supaya bisa langsung memfasilitasi penjualan gabah dari petani ke Bulog,” terang Warsubi.
Dengan keberadaan koperasi tersebut, proses pengolahan dan distribusi gabah akan lebih efisien, sekaligus memberikan harga jual yang lebih baik bagi petani.
Produksi Melimpah, Target Naik Tiga Kali Panen
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Warsubi juga mengungkapkan bahwa produksi padi di Jombang hingga awal April 2025 telah mencapai hasil yang cukup memuaskan, yakni antara 8 hingga 9 ton per hektare. Dari target keseluruhan sebanyak 200 ribu ton, capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi ketahanan pangan di Jombang.
“Kami menargetkan peningkatan frekuensi panen dari dua kali menjadi tiga kali dalam setahun. Salah satu program pendukungnya adalah Listrik Masuk Sawah (LMS), yang akan kami dorong agar bisa menjangkau lebih banyak lahan pertanian,” pungkasnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, Pemkab Jombang optimistis dapat menstabilkan harga gabah, meningkatkan kesejahteraan petani, dan menjaga ketahanan pangan daerah. (ear)
