Plengsengan Precast Lining BBWS Brantas Rusak Parah di Dua Lokasi Jombang

Headshot Media Jombang – Kerusakan plengsengan precast lining di wilayah Jombang kembali menjadi sorotan. Setelah sebelumnya ditemukan di Kecamatan Mojowarno, kondisi serupa juga terlihat di saluran Sekunder Gude yang berada di perbatasan antara Desa Pundong, Kecamatan Diwek dan Desa Godong, Kecamatan Gudo, Jombang.
Pantauan pada Minggu (6/4) menunjukkan kerusakan yang cukup serius. Pada salah satu titik, plengsengan terlihat ambles hingga lebih dari 10 meter. Tak hanya itu, tanah di sekitarnya pun ikut longsor. Padahal proyek ini diketahui baru dibangun sekitar dua tahun lalu.
“Dulu pernah rusak, banyak material yang jatuh,” ujar Dian, salah satu warga setempat. Ia menambahkan, saat itu sempat dilakukan perbaikan. “Tapi sekarang rusaknya lebih parah. Tanahnya juga sampai longsor,” imbuhnya.
Menurut Dian, kerusakan tersebut mulai terjadi pada awal tahun lalu, bersamaan dengan intensitas hujan yang tinggi dan aliran air yang cukup deras. Kondisi itu diduga mempercepat kerusakan pada tanggul dan plengsengan.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUPR Jombang, Sulton, menjelaskan bahwa kewenangan perbaikan plengsengan berada di tangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas.
“Itu sama seperti yang di Mojowarno, jadi kewenangan perbaikannya ada di BBWS. Kami hanya bisa memberikan laporan terkait kerusakan,” kata Sulton saat dikonfirmasi secara terpisah.
Sebelumnya, kerusakan juga terjadi pada plengsengan Sungai Rejoagung II yang berada di Desa Gondek, Kecamatan Mojowarno. Proyek yang dikerjakan pada tahun 2024 lalu ini sudah mengalami kerusakan cukup parah di banyak titik. Plengsengan dari precast lining tampak runtuh dan ambles.
“Itu sudah dua kali ambrol,” ujar Santoso, warga Gondek. Ia menjelaskan bahwa kerusakan pertama terjadi pada Desember lalu dan sempat diperbaiki. Namun kerusakan kembali terjadi pada Januari dan hingga kini belum ada perbaikan lanjutan.
Santoso juga mempertanyakan kualitas pengerjaan proyek yang menelan anggaran miliaran rupiah dari APBN tersebut. “Baru dibangun tahun lalu, tapi sudah rusak. Hampir semua titik rusak, jadi wajar kalau kami mempertanyakan kualitasnya,” ungkapnya. Ia khawatir jika kerusakan ini tidak segera ditangani, akan berpotensi menyebabkan banjir.
“Kalau dibiarkan bisa semakin parah. Bisa jadi banjir,” ujarnya berharap ada tindakan cepat dari pihak berwenang. (eAr)
