Uncategorized

Dialokasikan Rp 3,6 Miliar, Proyek Jembatan Kudubanjar Masih Tahap Administrasi Pemilihan Penyedia Jasa

Share

Jombang, Headshot Media – Meski telah ditetapkan sebagai salah satu proyek strategis daerah (PSD), pembangunan jembatan penghubung di Desa Kudubanjar, Kecamatan Kudu, Jombang, hingga pertengahan tahun ini belum juga menyentuh tahap konstruksi. Proyek yang dianggarkan senilai Rp 3,6 miliar dari APBD 2025 tersebut, masih berkutat di ranah penyusunan dokumen pemilihan penyedia barang dan jasa.

Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Jombang, Agung Hariadi, menjelaskan bahwa proyek ini akan menggunakan skema pengadaan e-purchasing melalui e-katalog nasional. Namun hingga kini, pihaknya bersama konsultan teknis masih dalam tahap survei penyedia.

“Sekarang masih melengkapi dokumen pemilihan penyedia. Kami masih survei pembanding ke sejumlah vendor yang terdaftar di e-katalog,” ujar Agung, Jumat (13/6).

Ia menambahkan, proses ini dilakukan sebagai bagian dari rekomendasi Inspektorat untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas, sembari menunggu pembaruan sistem e-katalog versi 6.

Meski tampak molor dari sisi waktu, Agung tetap optimistis proyek yang direncanakan rampung dalam tempo empat bulan tersebut masih memungkinkan diselesaikan sebelum akhir tahun anggaran.

“Insya Allah waktunya masih cukup. Kami targetkan sebelum Desember selesai, agar tidak terlalu mepet dengan tutup anggaran,” tambahnya.

Harapan Warga, Segera Terlaksana

Di sisi lain, Pemerintah Desa Kudubanjar dan warganya tak punya pilihan selain menunggu. Kepala Desa Kudubanjar, Gatot Kuswanto, menyampaikan bahwa sejauh ini belum ada informasi resmi dari Pemkab terkait waktu pasti dimulainya pembangunan.

“Kami masih menunggu. Sampai sekarang belum ada pemberitahuan lanjutan dari dinas,” ujarnya.

Sejak jembatan itu putus pada awal 2020 silam, warga setempat secara swadaya membangun jembatan darurat dari rangka besi untuk menjaga konektivitas antarwilayah, terutama akses penting menuju Desa Sumbernongko di Kecamatan Ngusikan.

“Warga sangat berharap proyek ini segera terealisasi. Jembatan ini jalur vital bagi aktivitas sehari-hari,” ungkap Gatot.

Sebelumnya, pembangunan jembatan sempat diajukan dalam rencana anggaran tahun 2024. Namun realisasi itu batal karena terjadi refocusing anggaran akibat penyesuaian fiskal pascapandemi.

Dengan kondisi yang sudah berlangsung lebih dari lima tahun, warga Desa Kudubanjar kini tak lagi sekadar menunggu janji. Mereka menanti realisasi konkret yang bisa menjadi penanda bahwa pembangunan tak hanya berhenti di papan proyek dan lembar perencanaan. (ear/yud)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *