EconomyInfo DaerahPolitics

Dari Smart Economy Jadi Smart Ironi: Pasar Rp10 Miliar yang Bocor Lagi

Share

JOMBANG, Headshot Media — Pasar Perak, yang digadang-gadang menjadi pasar percontohan “smart economy” di Kabupaten Jombang, kini justru tampil memprihatinkan. Bangunan yang menelan anggaran hampir Rp10 miliar itu bukan hanya sepi pedagang, tapi juga mengalami kebocoran di sejumlah titik dan banyak kios dibiarkan kosong.

Alih-alih menjadi simbol modernisasi pasar tradisional, Pasar Perak kini lebih menyerupai bangunan terbengkalai.

Atap Bocor, Dinding Berlumut, Kios Kosong

Pantauan Headshot Media di lokasi, meski cuaca cerah tanpa hujan, air tetap menetes dari dua pipa paralon di bawah talang. Tetesan air itu jatuh ke lantai dan menimbulkan noda serta lumut kehijauan di dinding pasar lantai dua.

Di sisi titik bocoran, deretan kios tampak kosong dan tak berpenghuni. Beberapa rolling door dibiarkan terbuka separuh, sebagian lagi berkarat dan macet. Suasana lantai atas pasar senyap, hanya terdengar langkah kaki beberapa pedagang yang masih bertahan.

“Sekarang banyak yang bocor. Padahal tahun lalu sudah diperbaiki, tapi bocor lagi. Kalau hujan, pasti netes dari atas,” keluh Junaidi, salah satu pedagang lantai dua, Kamis (6/11/2025).

Ia menambahkan, kondisi itu membuat pedagang semakin enggan menempati kios.

“Bangunan baru kok bocor terus, rugi dua kali. Sudah sepi, tambah repot lagi,” ujarnya.

Bangunan Baru, Masalah Lama

Pasar Perak sejatinya dibangun dalam dua tahap.

  • Tahap pertama (2021): menelan dana Rp6,63 miliar.
  • Tahap kedua (2022): menghabiskan anggaran Rp4,13 miliar.
    Total Rp10,7 miliar digelontorkan dari APBD Kabupaten Jombang.

Peresmian megah pasar ini dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada April 2023, lengkap dengan peluncuran sistem pembayaran retribusi elektronik dan label pasar cerdas berbasis digital.

BACA JUGA :  Tradisi Pedang Pora Iringi Pisah Sambut Kapolres Jombang

Namun satu tahun berselang, visi “smart economy” berubah jadi “slow recovery.”
Pasar tak kunjung ramai, kios banyak kosong, dan infrastruktur justru rusak sebelum waktunya.

Disdagrin Janji Perbaikan, Tapi Akar Masalah Tak Tersentuh

Kepala Bidang Sarana Perdagangan dan Barang Pokok Penting Yustinus Harris Eko Prasetijo mewakili Kadis Disdagrin Jombang Suwignyo, mengakui adanya kebocoran dan menyebut perbaikan akan dilakukan tahun ini.

“Iya, tahun ini akan diperbaiki. Ada kegiatan rehab Pasar Perak lewat P-APBD 2025. Kami perbaiki titik-titik bocor, pasang rolling door, dan sekat bedak bagian bawah,” kata Harris.

Namun, rencana perbaikan ini justru menimbulkan tanda tanya baru.
Bagaimana mungkin bangunan baru berbiaya miliaran sudah harus direhab dalam waktu kurang dari dua tahun?
Dan mengapa kebocoran yang sama terus berulang?

Dari Smart Economy Jadi Smart Ironi

Pasar Perak awalnya dipromosikan sebagai proyek unggulan dengan konsep “pasar pintar” — sistem transaksi digital, pengelolaan modern, dan fasilitas bersih.
Sayangnya, implementasi di lapangan jauh dari janji manis itu.

Kios kosong lebih banyak daripada yang terisi, sementara sebagian pedagang justru memilih berjualan di tepi jalan di sekitar pasar karena pengunjung jarang naik ke lantai dua.

Seorang warga Perak bahkan menyebut pasar itu kini lebih sering jadi tempat nongkrong kucing daripada pembeli.

“Dulu katanya pasar canggih, tapi sekarang malah mangkrak. Kalau hujan bocor, kalau panas pengap,” ujarnya.

Minim Evaluasi, Anggaran Menguap

Dari proyek bernilai miliaran hingga program perbaikan yang tak henti, tidak ada penjelasan terbuka soal evaluasi kualitas pengerjaan konstruksi.
Publik patut menduga, lemahnya pengawasan proyek dan orientasi serapan anggaran menjadi faktor utama kerusakan dini ini.(*)

Editor : Adm

BACA JUGA :  Kanit Binmas Polsek Diwek Tinjau Tanaman Jagung, Dukung Program Ketahanan Pangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *