Gaji Hanya Rp350 Ribu, Guru TK di Mojoagung Tinggal di Rumah Reyot Beratap Bocor
JOMBANG, Headshot Media – Di tengah pengabdian mencerdaskan anak-anak usia dini, seorang guru Taman Kanak-Kanak (TK) di Kabupaten Jombang justru hidup dalam keterbatasan yang memilukan. Adalah Yuliana Emawati, warga Dusun Johowinong, Kecamatan Mojoagung, yang bersama putrinya tinggal di rumah sederhana dengan kondisi sangat memprihatinkan.
Bangunan kecil berlantai tanah itu berdinding anyaman bambu (gedek) yang sudah rapuh dan berlubang di beberapa sisi. Sebagian dinding bahkan terpaksa ditambal menggunakan banner bekas agar angin malam tak langsung menerobos ke dalam rumah. Sementara di bagian atap, banyak genting yang telah bocor dan nyaris ambruk.
“Kalau hujan deras, saya tidak bisa tidur. Air masuk dari mana-mana, takut roboh,” ujar Yuliana lirih saat ditemui, Minggu (12/10).
Gaji Minim, Tak Cukup untuk Perbaikan Rumah
Yuliana mengaku sudah lebih dari lima tahun mengajar di salah satu TK di desanya. Namun, pengabdiannya tidak sebanding dengan penghasilan yang diterima. Ia hanya mendapatkan gaji Rp350 ribu per bulan, jumlah yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi memperbaiki rumah.
“Saya tetap bertahan mengajar karena saya suka anak-anak. Tapi kalau untuk memperbaiki rumah, jelas tidak sanggup. Penghasilan saya sangat pas-pasan,” tuturnya.
Meski hidup serba kekurangan, Yuliana tetap semangat menjalani profesinya.
Rumah Reyot, Hati Kuat
Kondisi rumah Yuliana kini menjadi perhatian warga sekitar. Mereka menilai sosok ibu guru tersebut pantas mendapat bantuan dari pemerintah. Bukan hanya karena pengabdiannya di dunia pendidikan, tetapi juga karena keberaniannya bertahan dalam kondisi sulit tanpa pernah menyerah.
Di sisi lain, beberapa warga juga mengaku prihatin melihat kondisi Yuliana yang tetap tersenyum dan menjalankan tugasnya meski hidup dalam keterbatasan.
Harapan Bantuan Pemerintah
Warga berharap Pemerintah Desa Johowinong maupun Pemerintah Kabupaten Jombang segera turun tangan membantu memperbaiki rumah Yuliana melalui program sosial, seperti Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau program rumah tidak layak huni (RTLH).
Selain itu, mereka juga berharap agar tenaga pendidik non-ASN seperti Yuliana mendapat perhatian lebih dalam hal kesejahteraan.
“Guru seperti Bu Yuliana ini adalah pejuang pendidikan. Sudah sepatutnya pemerintah memperhatikan nasib mereka,” ujar warga setempat.
Kisah Yuliana menjadi potret nyata perjuangan guru honorer di pelosok daerah. Di tengah gempuran era digital dan tuntutan profesionalisme, masih ada pendidik yang mengabdi dengan sepenuh hati meski hidup dalam kesederhanaan ekstrem.
Harapan besar kini tertuju pada pemerintah dan masyarakat agar tidak menutup mata terhadap perjuangan seperti yang dijalani Yuliana.(*)
Editor : Adm
