Kasus Keracunan Massal di Sleman: Jumlah Korban Siswa Capai 379 Orang, Satu Masih Dirawat
Sleman, Yogyakarta – Kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sleman terus berkembang. Hingga Jumat malam (15/8/2025), total korban yang melaporkan gejala keracunan tercatat mencapai 379 siswa dari empat SMP di wilayah Mlati.
Data terbaru ini mengalami lonjakan signifikan dari laporan sebelumnya yang mencatat 212 siswa terdampak. Informasi ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman, dr. Khamidah Yuliati. Menurutnya, data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang disebarkan kepada para siswa.
“Per Jumat pukul 20.00 WIB, tercatat ada 379 siswa yang mengalami gejala seperti mual, pusing, dan diare. Gejala ini muncul setelah konsumsi menu MBG yang disediakan pada hari Selasa (12/8),” jelas dr. Yuliati.
Sebagian Besar Ditangani Puskesmas, Satu Masih Opname
Sebagian besar siswa yang mengalami gejala dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti Puskesmas. Namun, 23 siswa harus dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih intensif.
Rinciannya, 19 siswa dirawat di RSUD Sleman, sementara 4 lainnya dirujuk ke Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM. Dari jumlah tersebut, saat ini hanya satu siswa yang masih menjalani rawat inap di RSUD Sleman. Semua pasien lainnya telah diperbolehkan pulang.
“Pasien yang sudah dipulangkan artinya kondisinya telah membaik. Semoga semuanya segera pulih sepenuhnya,” tambah dr. Yuliati, Sabtu (16/8/2025).
MBG Diduga Picu Keracunan, Rawon Jadi Sorotan
Dugaan kuat menyebut bahwa makanan MBG yang disajikan pada Selasa (12/8), dengan menu utama rawon, menjadi sumber keracunan. Gejala mulai muncul keesokan harinya, Rabu pagi, dan menyerang ratusan siswa dari empat sekolah, yakni SMP Muhammadiyah 1 Mlati, SMP Muhammadiyah 3 Mlati, SMP Pamungkas, dan SMP Negeri 3 Mlati.
Pemerintah Kabupaten Sleman langsung mengambil tindakan cepat. Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menegaskan bahwa penanganan medis menjadi prioritas utama. Ia juga memastikan bahwa seluruh biaya perawatan siswa ditanggung penuh oleh pemerintah melalui koordinasi dengan BPJS Kesehatan, Dinas Kesehatan, dan Dinas Sosial.
“Masyarakat tidak akan dibebani biaya sedikit pun. Pemerintah hadir untuk menjamin penanganan yang terbaik bagi para siswa,” tegas Danang.
Polisi Selidiki Penyebab, Sampel Makanan Diperiksa Labfor
Polresta Sleman kini tengah menyelidiki penyebab pasti insiden ini. Sampel makanan, termasuk rawon, nasi, buah, serta muntahan siswa telah dikirim ke Laboratorium Forensik (Labfor) Semarang untuk diperiksa.
Kapolresta Sleman, Kombes Pol Edy Setianto Erning Wibowo, menyatakan bahwa penyedia makanan MBG bersikap kooperatif dan telah diperiksa oleh penyidik. Pihak kepolisian juga telah memeriksa dapur tempat makanan tersebut diproduksi.
“Pemeriksaan lab akan memberikan petunjuk penting terkait zat atau mikroorganisme penyebab keracunan. Hasil ini yang akan menentukan arah penyelidikan selanjutnya,” ungkapnya.
Penanganan Lanjutan dan Evaluasi Program MBG
Insiden ini memicu sorotan luas terhadap program Makan Bergizi Gratis yang dijalankan pemerintah daerah. Evaluasi terhadap sistem distribusi, pengawasan kualitas makanan, dan pemilihan mitra penyedia akan menjadi langkah penting ke depan guna mencegah kejadian serupa.
Sementara itu, Dinas Kesehatan Sleman memastikan pemantauan kesehatan para siswa akan terus dilakukan, termasuk edukasi higienitas kepada sekolah dan penyedia makanan.(*)
Editor : Adm
