“Sambo Jilid 2?” Kematian Brigadir N dan Luka Lama yang Belum Sembuh di Tubuh Polri
HEADSHOT MEDIA – Kematian tragis Brigadir Muhammad Nurhadi alias Brigadir N kembali menguak borok lama di tubuh Polri. Peristiwa ini tak hanya menyisakan duka bagi keluarganya—dua anak kini yatim, salah satunya bahkan baru berusia satu bulan—tapi juga mengguncang kembali kepercayaan publik terhadap institusi kepolisian.
Brigadir N ditemukan tewas di sebuah vila mewah di kawasan wisata Gili Trawangan, NTB, pada 16 April 2025. Awalnya, kepolisian menyebut penyebab kematian sebagai kecelakaan biasa: tenggelam di kolam renang. Namun, publik mencium kejanggalan. Dan benar saja, penyelidikan membelokkan narasi awal: ini bukan kecelakaan. Ini kemungkinan pembunuhan.
Hingga kini, tiga tersangka telah ditetapkan:
Misri Puspita Sari (23), seorang perempuan muda asal Jambi yang disebut datang karena “dibooking” oleh salah satu tersangka,
Kompol I Made Yogi Pusura Utama, perwira Propam Polda NTB,
Ipda I Gede Haris Chandra, rekan satu divisi sekaligus atasan Brigadir N di Bidpropam.
Ketiganya masih menyimpan misteri besar: motif tak jelas, kronologi tak gamblang, dan publikasi Polri pun masih tambal sulam. Pengacara Misri menyebut kliennya hanya dipanggil oleh Kompol Yogi dan dibayar Rp 10 juta—namun kenapa ia turut ditetapkan sebagai tersangka?
Mirip Kasus Sambo?
Kasus ini kontan dijuluki netizen sebagai “Sambo Jilid 2”. Bukan tanpa alasan. Ada sejumlah irisan antara kematian Brigadir N dan tragedi Brigadir J yang menghebohkan Indonesia pada 2022 lalu:
1. Kematian Tak Wajar, Tangan Sesama Polisi
Baik Brigadir N maupun Brigadir J diduga tewas oleh tangan kolega mereka sendiri. Brigadir J tewas ditembak di rumah jenderalnya, Ferdy Sambo. Sedangkan Brigadir N diduga tewas dicekik dan dianiaya oleh dua atasannya yang juga perwira aktif. Keduanya sama-sama berada dalam lingkaran Propam.
2. Rekayasa Narasi dan Dugaan Pengaburan Fakta
Seperti Sambo, kasus Brigadir N juga diawali dengan narasi resmi yang melempem. Baru setelah keluarga curiga terhadap luka-luka di tubuh korban, penyelidikan mulai menemukan arah. Bahkan, autopsi awal sempat ditolak keluarga karena khawatir tak objektif—hingga akhirnya dilakukan ekshumasi.
3. Perwira Propam di Pusaran Kasus
Lagi-lagi Propam, lembaga yang seharusnya menjaga integritas internal Polri, justru menjadi episentrum skandal. Dulu Sambo adalah Kadiv Propam. Kini, dua pelaku disebut berasal dari Bidang Propam Polda NTB. Sulit membantah bahwa fungsi pengawasan internal Polri kerap berubah jadi ruang abu-abu kekuasaan.
4. Ledakan Desakan Transparansi Publik
Netizen ramai-ramai menyerukan agar penyelidikan dilakukan terbuka. Kecurigaan akan potensi pengaburan fakta menyulut gelombang protes digital. Publik belajar dari kasus Sambo: suara kolektif bisa menjadi alat tekanan terhadap sistem yang tertutup.
5. Dampak Sistemik terhadap Citra Polri
Citra Polri yang tengah berupaya membangun ulang kepercayaan publik pasca kasus Sambo, kini kembali diuji. Jika kasus Brigadir N diseret ke dalam lingkar ketertutupan, Polri akan makin kehilangan wibawa di mata rakyat. Sebaliknya, jika ditangani dengan transparan dan profesional, ini bisa jadi momentum pemulihan.
Bukan Copy-Paste, Tapi Cermin
Tentu, tidak bijak menyamakan dua kasus secara mutlak. Setiap tragedi punya konteks dan aktor yang berbeda. Namun, benang merahnya jelas: kematian yang tak wajar, aktor internal, upaya pengaburan, dan tekanan publik.
Yang membedakan mungkin hanya satu: apakah kali ini Polri belajar dari masa lalu?
Jika ya, maka penyelidikan kasus Brigadir N akan jadi tolok ukur seberapa dalam reformasi internal kepolisian telah berjalan. Jika tidak, maka “Sambo Jilid 2” bukan hanya istilah viral, tapi kenyataan pahit yang terus berulang.
Polisi untuk rakyat? Maka tunjukkan keberanian menegakkan keadilan, bukan sekadar menjaga citra.
— Headshot Media
Editor : adm
