NasionalPolitics

Sunyi di Tengah Badai: Tak Ada Partai yang Pasang Badan untuk Jokowi dalam Isu Ijazah Palsu

Share

Headshot Media – Di tengah arus besar legitimasi politik yang selama ini menopang kekuasaan Presiden Joko Widodo selama dua periode, kini tampaknya mulai terkuak celah: tak satu pun partai politik angkat suara membela Jokowi dalam pusaran isu yang menyentuh fondasi integritas personalnya—kasus dugaan ijazah palsu.

Isu yang semula dianggap sebagai noise pinggiran di kanal-kanal alternatif dan media sosial, kini mulai menyeret nama besar Jokowi ke ruang publik dengan intensitas yang tak bisa lagi diabaikan. Belum ada verifikasi resmi dari lembaga negara yang menyelesaikan polemik ini secara tuntas, namun aroma keraguan terus menguar dan mengikis kredibilitas, perlahan namun pasti.

Pengamat politik Ray Rangkuti, dalam perbincangan di kanal YouTube Forum Keadilan TV pada Selasa, 27 Mei 2025, menggarisbawahi fenomena politik yang ia sebut sebagai “sunyi kolektif” dari partai-partai besar terhadap Jokowi.

“Coba kita lihat, kasus ijazah palsu, enggak ada satu pun partai yang bela Jokowi,” ujar Ray, dengan nada prihatin namun realistis.

Ketika Loyalitas Politik Tak Lagi Otomatis

Absennya pembelaan dari partai politik bukanlah sekadar kelalaian komunikasi. Ray menafsirkan hal ini sebagai sinyal memburuknya hubungan politik antara Jokowi dan partai-partai yang dahulu menjadi kendaraan dan penopang utamanya. Bahkan dalam kasus lain yang menyentuh lingkar keluarga Jokowi—seperti desakan Forum Purnawirawan TNI untuk mencopot Gibran Rakabuming Raka dari posisi wakil presiden terpilih—lagi-lagi, tak ada satupun partai yang bersuara.

“Isu ‘Adili Jokowi’ menggema, tapi partai-partai diam. Desakan mengganti Gibran juga muncul, tapi tetap nihil pembelaan,” lanjut Ray.

Menurutnya, diamnya partai-partai ini bukanlah tanpa makna. Justru, diam adalah sikap. Sunyi adalah bahasa politik yang paling telanjang—menandakan bahwa Jokowi kini berdiri nyaris sendiri dalam lanskap politik yang dulu penuh sorak dukungan.

Kuda-Kuda Jokowi di Masa Sunset

Fenomena ini, menurut Ray, tak luput dari perhatian Jokowi sendiri. Mantan Wali Kota Solo itu dinilai tengah menyusun langkah strategis sebagai respons atas mengendurnya dukungan partai.

“Itu yang dibaca Jokowi, makanya dia pasang kuda-kuda,” pungkas Ray.

Ungkapan ini menjadi metafora penting: Jokowi tidak lagi berada dalam posisi tenang sebagai pemimpin yang didukung penuh oleh mesin politik. Ia kini mengambil sikap bertahan, bahkan mungkin bersiap menyerang jika perlu.

Jika selama satu dekade terakhir Jokowi diposisikan sebagai tokoh sentral yang mampu menjinakkan partai-partai, kini relasi kuasa itu mulai menunjukkan gejala pembalikan. Terlebih dengan naiknya pasangan Prabowo–Gibran, di mana Gibran sendiri adalah putra sulung Jokowi, ada kompleksitas yang belum selesai: antara warisan politik, kesinambungan kekuasaan, dan ekspektasi publik terhadap kredibilitas pribadi.

Bukan Sekadar Ijazah, Tapi Narasi Identitas

Isu ijazah palsu sejatinya bukan sekadar persoalan dokumen pendidikan. Dalam politik, setiap narasi adalah soal simbol dan legitimasi. Keraguan atas latar belakang pendidikan seorang presiden bukan hanya soal administratif, melainkan soal moral dan kepercayaan publik. Isu ini menyentuh jantung identitas Jokowi sebagai figur rakyat yang menembus elit tanpa polesan gelar.

Di sinilah paradoks terjadi: seorang Jokowi yang dibanggakan sebagai tokoh antitesis dari elite lama, kini justru diseret oleh isu yang menyoal keaslian identitasnya sendiri.

Dalam teori politik kontemporer, ini dikenal sebagai legitimacy erosion—kerapuhan pelan-pelan terhadap fondasi moral seorang pemimpin. Dan dalam konteks Jokowi, erosi itu terjadi bukan oleh oposisi, tapi oleh keheningan dari para sekutu politiknya sendiri.

Catatan Akhir: Antara Sunyi dan Sunset

Isu ijazah palsu mungkin akan terus menjadi perdebatan, antara fakta dan fiksi, antara pembuktian hukum dan narasi publik. Tapi satu hal jelas: kesunyian partai-partai terhadap isu ini adalah penanda era baru dalam konstelasi politik Indonesia—era pasca-Jokowi, di mana loyalitas tak lagi gratis, dan sejarah akan menulis dengan tinta lebih kritis. (ptr/ear)

sumber : rmol/youtube Forum Keadilan TV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *