Peristiwa

Irigasi Jatimlerek Kembali Mengalir Setelah Hampir Sebulan Terganggu

Share

Aliran irigasi di wilayah Jatimlerek, Kabupaten Jombang, akhirnya kembali mengalir setelah sempat terganggu hampir satu bulan. Kembalinya pasokan air ini membawa kelegaan bagi petani di kawasan utara Sungai Brantas karena kebutuhan pengairan sawah mulai terpenuhi kembali.

Seorang petani Desa Jatimlerek, Kecamatan Plandaan, Anang Setyo Wibowo, mengungkapkan bahwa air dari saluran pembagi Sungai Brantas sudah mulai masuk ke jaringan irigasi sejak pagi hari. Walaupun debit air belum sepenuhnya stabil, kondisi tersebut dinilai jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya saat aliran hanya muncul sesaat di pagi hari lalu menghilang kembali pada malam hari.

Kenaikan debit Sungai Brantas membuat air kembali dapat masuk ke intake dan disalurkan ke lahan pertanian. Sebelumnya, petani harus mengandalkan sumur bor untuk mempertahankan tanaman mereka, yang menyebabkan peningkatan biaya produksi.

Selain itu, para petani juga telah melakukan kerja bakti membersihkan saluran irigasi beberapa waktu lalu agar aliran air tidak terhambat. Mereka menilai endapan dan sumbatan di beberapa titik menjadi salah satu faktor yang mengganggu kelancaran distribusi air.

Anang berharap kondisi Bendung Karet Jatimlerek dapat segera kembali normal sepenuhnya, mengingat bendung tersebut merupakan sumber utama pengairan ribuan hektare sawah di berbagai desa. Kerusakan infrastruktur ini tidak hanya berdampak di Jatimlerek, tetapi juga dirasakan petani di wilayah Bangsri, Tanggungkramat, Plandaan, Purisemanding, hingga Rejoagung di Kecamatan Ploso.

Kepala Desa Jatimlerek, Jadi, menyampaikan bahwa lancarnya aliran air saat ini bukan disebabkan oleh perbaikan bendung, melainkan karena meningkatnya debit Sungai Brantas. Ia menjelaskan bahwa hujan di daerah hulu serta proses flushing dari bendungan di wilayah atas menjadi penyebab utama bertambahnya volume air.

Namun demikian, ia menilai kondisi tersebut bersifat sementara. Jika debit air dari hulu kembali menurun, maka aliran irigasi berpotensi kembali terganggu. Ia juga menegaskan bahwa persoalan utama masih berada pada kerusakan pintu nomor enam Bendung Karet Jatimlerek yang belum tertangani secara optimal.

Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Air, Sultoni, menjelaskan bahwa peningkatan debit Sungai Brantas dipengaruhi oleh proses flushing di Bendungan Serut, Blitar. Kondisi ini memberikan tambahan aliran yang memungkinkan air tetap masuk ke intake irigasi meskipun pintu bendung masih mengalami kerusakan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa situasi tersebut hanya bersifat sementara karena sangat bergantung pada durasi dan besarnya debit dari proses flushing. Setelah kegiatan tersebut selesai, perbaikan pada pintu nomor enam akan kembali dilanjutkan.

Sebelumnya, kerusakan pada pintu nomor enam Bendung Karet Jatimlerek menyebabkan aliran air ke saluran irigasi terhenti total, sehingga sekitar 1.816 hektare lahan pertanian di wilayah utara Sungai Brantas terancam kekeringan.

Di sisi lain, proyek rehabilitasi Bendung Jatimlerek dengan nilai anggaran Rp 268,33 miliar hingga awal Mei masih berada pada tahap awal pengerjaan. Kegiatan yang dilakukan saat ini masih berfokus pada penggalian saluran pengelak sementara di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, serta pembangunan intake sementara di sisi utara sungai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *