Info DaerahNasional

Bukan 5 Orang Meninggal, Keracunan MBG Sidoarjo Tembus 748 Korban

Share

HEADSHOT MEDIA | SIDOARJO – Kabar mengenai lima orang meninggal dunia akibat keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, beredar luas di media sosial. Namun, kabar tersebut dipastikan tidak benar.

Fakta di lapangan menunjukkan memang terjadi dugaan keracunan massal setelah penerima manfaat mengonsumsi makanan program MBG. Namun hingga laporan terbaru, tidak ada korban meninggal dunia akibat peristiwa tersebut.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bahkan telah memasukkan narasi “lima santri meninggal akibat keracunan MBG di Sidoarjo” sebagai informasi hoaks.

Komdigi menyebut dugaan keracunan terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin. Sebanyak ratusan santri mengalami gangguan kesehatan dan sebagian harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Korban Terus Bertambah

Kasus ini bukan perkara kecil.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo mencatat jumlah korban terus mengalami pembaruan.

Pada 2 September, jumlah korban dilaporkan mencapai 566 orang. Sehari kemudian meningkat menjadi 664 orang, kemudian mencapai 730 orang, dan data terbaru pada 4 September menyebut jumlah korban mencapai 748 orang.

Dari angka tersebut, sebagian besar sudah diperbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan. Pada Jumat (4/9/2026), sebanyak 728 orang telah diperbolehkan pulang, sementara 20 orang masih menjalani rawat inap.

Gejala yang banyak dialami korban antara lain mual, muntah dan pusing.

Para korban mendapatkan penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan di Sidoarjo.

Wagub Jatim: Tidak Ada yang Meninggal

Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, sebelumnya turun langsung melihat penanganan para korban.

Emil secara tegas membantah kabar adanya korban meninggal dunia.

“Tidak ada yang meninggal. Tidak betul,” tegas Emil saat berada di RSUD Notopuro Sidoarjo.

BACA JUGA :  Kanit Binmas Polsek Diwek Tinjau Tanaman Jagung, Dukung Program Ketahanan Pangan

Pernyataan tersebut menjadi penting karena informasi mengenai korban meninggal sempat menyebar luas di media sosial.

Pihak Pondok Pesantren Manbaul Hikam juga membantah adanya santri yang meninggal akibat kejadian tersebut.

Artinya, masyarakat harus berhati-hati membedakan antara fakta keracunan massal dan narasi kematian yang tidak terbukti.

Bukan Berarti Masalah Selesai

Meski kabar lima orang meninggal terbukti hoaks, bukan berarti persoalan MBG di Sidoarjo dapat dianggap selesai.

Sebaliknya, angka 748 korban justru menunjukkan bahwa persoalan keamanan pangan dalam program berskala besar harus menjadi perhatian serius.

Pertanyaan mendasarnya adalah:

Bagaimana makanan yang dibagikan dalam program yang bertujuan meningkatkan kesehatan justru membuat ratusan penerima manfaat jatuh sakit?

Pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka hasil pemeriksaan terhadap makanan yang dikonsumsi para korban.

Dari mana sumber masalahnya?

Apakah berasal dari bahan baku?

Proses memasak?

Penyimpanan?

Distribusi?

Atau persoalan higienitas dapur?

Semua harus dibuktikan melalui pemeriksaan dan investigasi, bukan sekadar dugaan.

SPPG Disuspend

Sebagai langkah awal, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut mendapat penghentian sementara operasional.

ANTARA melaporkan Badan Gizi Nasional menerbitkan penghentian sementara atau suspend kategori berat terhadap operasional SPPG Tanggulangin Kali Tengah pada 2 September 2026.

Langkah tersebut patut diapresiasi.

Namun publik tentu berhak mengetahui mengapa kesalahan sampai terjadi dan siapa yang bertanggung jawab apabila ditemukan pelanggaran.

Sebab program MBG menyangkut makanan yang dikonsumsi anak-anak dan kelompok penerima manfaat lainnya.

Standar keamanan pangan tidak boleh diperlakukan sebagai formalitas administrasi.

Hoaks Harus Dilawan, Fakta Harus Dibuka

Ada dua persoalan berbeda dalam kasus ini.

Pertama, dugaan keracunan massal yang nyata dan menimpa ratusan orang.

Kedua, informasi palsu mengenai adanya korban meninggal dunia.

BACA JUGA :  PUPR Jombang Benahi Jalan Mayjend Sungkono dan Kemuning, Bahu Jalan Diperkuat dan Permukaan Ditingkatkan

Keduanya sama-sama berbahaya.

Keracunan massal harus diselidiki secara serius agar tidak terulang.

Sementara informasi palsu mengenai kematian juga harus dihentikan karena dapat menimbulkan kepanikan dan memperkeruh keadaan.

Masyarakat jangan mudah mempercayai video, poster atau unggahan media sosial yang mencantumkan angka korban tanpa sumber yang jelas.

Dalam kasus ini, klaim lima orang meninggal telah dibantah oleh pemerintah dan dikategorikan sebagai hoaks oleh Komdigi.

Jangan Tutup Mata terhadap 748 Korban

Yang perlu menjadi perhatian bukan membesar-besarkan jumlah korban dengan informasi palsu.

Justru sebaliknya.

748 orang terdampak sudah merupakan fakta yang sangat serius.

Tidak perlu menambahkan angka kematian fiktif agar kasus ini terlihat besar.

Ratusan orang yang jatuh sakit setelah mengonsumsi makanan MBG sudah cukup menjadi alasan bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh.

Program MBG merupakan program strategis nasional.

Karena itu, pengawasan terhadap dapur penyedia makanan, kualitas bahan baku, proses memasak, pengemasan, penyimpanan hingga distribusi harus benar-benar ketat.

Jangan sampai slogan makanan bergizi justru berubah menjadi kekhawatiran masyarakat.

Headshot Media berpandangan, kasus Sidoarjo harus menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola MBG.

Bukan dengan menyebarkan kabar kematian yang tidak terbukti.

Tetapi dengan membuka fakta, mencari penyebab, memperbaiki sistem dan memastikan keselamatan penerima manfaat menjadi prioritas utama.

Karena satu orang keracunan saja harus dicari penyebabnya. Apalagi ketika jumlahnya mencapai ratusan.

Editor : A Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *