Ziarah ke Makam Gus Dur, Dubes Australia Sebut Jombang Bisa Jadi Teladan Toleransi Dunia
JOMBANG — Ada alasan khusus di balik kunjungan Duta Besar Australia untuk Indonesia, H.E. Rod Brazier, ke Kabupaten Jombang, Selasa (18/8). Di sela agenda kerja, diplomat Australia itu menyempatkan diri berziarah ke makam Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng.
Rod datang bersama putri Gus Dur, Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid. Ziarah tersebut bukan sekadar kunjungan diplomatik. Bagi Rod, makam Gus Dur membawa kembali ingatan panjang tentang sosok yang telah dikenalnya sejak masih menjadi mahasiswa di Australia.
Rod mengaku sudah mendengar nama Gus Dur sejak berusia sekitar 20-an tahun. Ia bahkan berkesempatan bertemu langsung dengan Gus Dur pada 1992.
“Sejak saya umur 20-an tahun sebagai mahasiswa di Australia, saya dengar nama Gus Dur itu. Dan saya dapat bertemu dengan beliau pada tahun 1992 kalau tidak salah,” ujar Rod kepada wartawan.
Lebih dari tiga dekade kemudian, Rod kembali datang ke Jombang. Kali ini, ia berdiri di hadapan makam tokoh yang dikenal luas karena gagasan tentang kemanusiaan, demokrasi, pluralisme, dan toleransi.
“Dan sekarang, 34 tahun kemudian, saya sempat berziarah ke kuburan beliau di Jombang bersama Ibu Yenny,” katanya.
Dari Tebuireng, agenda kunjungan berlanjut dengan pertemuan dan makan siang bersama sejumlah ulama serta pimpinan pondok pesantren di Jombang.
Pertemuan itu menjadi ruang dialog mengenai sejarah panjang pesantren, perkembangan Islam di Indonesia, serta perjalanan Nahdlatul Ulama (NU), khususnya yang berakar kuat di Jombang.
Rod mengaku mendapatkan banyak cerita dan perspektif baru dari para ulama yang ditemuinya.
“Saya juga dapat kesempatan untuk bertemu dengan para ulama di Jombang dan makan bersama. Saya mendengar banyak cerita yang menarik mengenai sejarah pesantren-pesantren dan NU di Jombang,” tuturnya.
Jombang dan Pesan Toleransi
Bagi Rod, kunjungan tersebut bukan hanya tentang sejarah. Ia melihat ada nilai yang jauh lebih penting yang bisa dibawa dari Jombang, yakni toleransi dan kemampuan masyarakat hidup dalam keberagaman.
Menurut dia, pesan toleransi menjadi semakin relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Media sosial, di satu sisi, mampu mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang, tetapi di sisi lain juga dapat memperuncing perbedaan dan memicu polarisasi.
“Sekarang di dunia ini dengan sosial media dan sebagainya, pesan-pesan toleransi makin penting,” kata Rod.
Dalam konteks itulah, Rod memandang pengalaman Jombang layak diperkenalkan lebih luas. Tradisi pesantren, kehidupan keagamaan yang berdampingan dengan keberagaman, serta warisan pemikiran tokoh seperti Gus Dur dinilai memiliki pesan universal yang relevan bagi dunia.
Bahkan, Rod secara terbuka menyebut Jombang sebagai salah satu contoh yang dapat dipelajari Australia.
“Harapan saya, Australia bisa belajar dari contoh di Jombang ini yang luar biasa,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Australia tidak semata-mata dibangun melalui hubungan antarpemerintah. Interaksi antarmasyarakat, pendidikan, kebudayaan, pesantren, serta dialog lintas agama juga memiliki peran penting dalam memperkuat hubungan kedua negara.
Dari Tebuireng untuk Hubungan Indonesia-Australia
Kunjungan Rod ke Jombang diharapkan menjadi pintu masuk bagi semakin eratnya hubungan Australia dengan Jawa Timur, khususnya Kabupaten Jombang.
Sejumlah bidang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan, mulai dari pendidikan, kebudayaan, pertukaran pengetahuan, hingga dialog lintas agama dan kepercayaan.
Bagi Jombang, kunjungan tersebut juga membawa pesan bahwa tradisi pesantren dan nilai-nilai toleransi yang tumbuh di daerah ini memiliki daya tarik melampaui batas lokal.
Jika pesan-pesan tersebut dapat terus dipertahankan dan dikembangkan, Jombang bukan hanya dikenal sebagai salah satu pusat sejarah pesantren dan NU, tetapi juga dapat tampil sebagai ruang pembelajaran tentang bagaimana keberagaman dirawat melalui dialog, tradisi, dan penghormatan terhadap perbedaan.
Dan dari makam Gus Dur di Tebuireng, pesan itu kembali menemukan relevansinya: bahwa toleransi bukan sekadar gagasan, melainkan warisan yang harus terus dihidupkan dalam kehidupan masyarakat.
adm
