Rupiah Tersungkur, Fiskal Tercekik: Ada Apa dengan Ekonomi Indonesia?
Oleh : Earliyanto (Program Magister Ekonomi Pembangunan Univ. Darul Ulum)
Di tengah ketidakpastian global, ekonomi Indonesia sedang memasuki fase yang mengkhawatirkan. Rupiah melemah tajam, pasar saham bergejolak, investor asing mulai keluar dari pasar obligasi, sementara pemerintah justru mendorong berbagai program besar yang menyedot anggaran negara.
Dalam perspektif Makroekonomi, situasi ini bukan sekadar gejolak biasa. Pasar mulai membaca adanya kerentanan fundamental dalam struktur fiskal dan arah kebijakan ekonomi Indonesia.
Masalahnya bukan hanya dolar AS yang menguat. Masalah yang lebih besar adalah menurunnya kepercayaan terhadap kemampuan fiskal Indonesia menjaga stabilitas jangka panjang.
Rupiah Melemah, Bukan Sekadar Efek Dolar
Narasi resmi sering menyebut pelemahan rupiah disebabkan faktor eksternal:
- suku bunga tinggi Amerika Serikat,
- perang geopolitik,
- perlambatan ekonomi global,
- dan arus modal keluar dari negara berkembang.
Semua itu benar. Tetapi pasar tidak hanya melihat faktor eksternal. Investor juga melihat kondisi internal Indonesia:
- defisit fiskal,
- kualitas APBN,
- beban utang,
- dan keberlanjutan program pemerintah.
Ketika kepercayaan menurun, modal asing keluar, permintaan dolar naik, dan rupiah jatuh lebih dalam.
Hubungannya sederhana:
Capital Outflow→Permintaan Dolar Naik→Rupiah MelemahCapital\ Outflow \rightarrow Permintaan\ Dolar\ Naik \rightarrow Rupiah\ MelemahCapital Outflow→Permintaan Dolar Naik→Rupiah Melemah
Bahkan kekhawatiran terhadap kredibilitas fiskal disebut menjadi salah satu penyebab investor asing melepas SBN Indonesia.
APBN Dibebani Program Jumbo
Kekhawatiran pasar makin besar karena pemerintah mendorong program-program raksasa seperti:
- MBG (Makan Bergizi Gratis),
- Koperasi Desa Merah Putih,
- proyek hilirisasi,
- berbagai subsidi,
- hingga intervensi ekonomi melalui Danantara.
Secara politik program itu terlihat populis dan pro-rakyat. Tetapi secara fiskal, banyak ekonom mempertanyakan:
apakah APBN Indonesia benar-benar mampu membiayai semuanya secara sehat?
Karena masalah utama Indonesia adalah:
- tax ratio rendah,
- penerimaan negara lemah,
- utang terus bertambah,
- tetapi belanja terus diperbesar.
Jika belanja meningkat lebih cepat daripada pendapatan negara, maka risiko fiskal meningkat:
Belanja Negara>Pendapatan Negara→Defisit Fiskal MembesarBelanja\ Negara > Pendapatan\ Negara \rightarrow Defisit\ Fiskal\ MembesarBelanja Negara>Pendapatan Negara→Defisit Fiskal Membesar
Beberapa laporan bahkan menyoroti risiko shortfall pajak dan potensi peningkatan penerbitan SBN untuk menutup kebutuhan pembiayaan negara.
Patriot Bond dan Sinyal Kepanikan Fiskal
Di tengah tekanan tersebut, muncul isu penerbitan “Patriot Bond” atau obligasi patriotik melalui Danantara.
Instrumen ini menuai kontroversi karena menawarkan kupon sekitar 2 persen—jauh di bawah imbal hasil pasar obligasi pemerintah yang berada di kisaran 5–6 persen.
Secara ekonomi, banyak analis mempertanyakan logikanya:
- mengapa investor mau membeli obligasi 2 persen ketika inflasi dan depresiasi rupiah lebih tinggi?
- apakah instrumen ini benar-benar investasi atau sekadar mobilisasi dana politik?
Bahkan muncul kritik bahwa patriotisme tidak boleh dijadikan alasan untuk mendistorsi pasar keuangan.
Dalam logika pasar:
- jika instrumen normal tidak cukup menarik,
- lalu negara menawarkan obligasi “patriotik” dengan bunga rendah,
maka pasar membaca adanya tekanan kebutuhan dana yang serius.
Masalah terbesar bukan pada obligasinya, tetapi pada pesan psikologisnya:
negara terlihat semakin membutuhkan likuiditas murah di tengah ruang fiskal yang menyempit.
Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan
Pasar keuangan hidup dari kepercayaan.
Ketika investor mulai meragukan:
- disiplin fiskal,
- arah kebijakan,
- dan efektivitas belanja negara,
maka dampaknya langsung terasa:
- IHSG terkoreksi,
- yield obligasi naik,
- rupiah melemah,
- dan modal asing keluar.
Data menunjukkan kepemilikan asing di SBN terus menurun drastis dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Di ruang publik dan komunitas investor ritel, sentimen negatif terhadap aset rupiah juga mulai muncul. Banyak diskusi investor mulai membandingkan SBN dengan dolar AS, emas, hingga aset luar negeri karena khawatir pelemahan rupiah menggerus keuntungan investasi.
Ini berbahaya karena:
krisis ekonomi modern sering dimulai dari hilangnya kepercayaan, bukan semata-mata kekurangan uang.
Negara Terlihat Aktif, Tetapi Ekonomi Riil Belum Kokoh
Ironinya, di tengah gencarnya proyek dan intervensi negara, ekonomi masyarakat bawah justru belum benar-benar kuat.
Kelas menengah mulai tertekan oleh:
- biaya hidup,
- harga pangan,
- cicilan,
- dan lapangan kerja yang tidak tumbuh secepat harapan.
Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada:
- konsumsi,
- komoditas,
- dan belanja pemerintah.
Padahal ekonomi yang sehat seharusnya ditopang:
- industrialisasi kuat,
- produktivitas tinggi,
- inovasi,
- dan ekspor bernilai tambah.
Karena itu kritik terbesar terhadap ekonomi Indonesia hari ini bukan sekadar soal angka pertumbuhan, tetapi kualitas pertumbuhannya.
Ancaman Stagflasi Mulai Dibicarakan
Jika:
- rupiah terus melemah,
- inflasi naik,
- pertumbuhan melambat,
- dan daya beli turun,
maka Indonesia menghadapi ancaman stagflasi.
Konsepnya:
Inflasi Tinggi+Pertumbuhan Lemah=StagflasiInflasi\ Tinggi + Pertumbuhan\ Lemah = StagflasiInflasi Tinggi+Pertumbuhan Lemah=Stagflasi
Ini adalah kondisi paling sulit dalam makroekonomi karena:
- rakyat semakin miskin,
- tetapi pemerintah juga sulit melakukan stimulus baru karena fiskal sudah terbebani.
Kesimpulan: Krisis Kepercayaan Mulai Terlihat
Indonesia memang belum berada pada titik krisis seperti 1998. Cadangan devisa masih ada, sektor perbankan relatif lebih kuat, dan negara masih mampu membayar kewajiban fiskalnya.
Namun tanda-tanda kerentanan mulai terlihat:
- rupiah terus tertekan,
- investor asing keluar,
- ruang fiskal menyempit,
- utang meningkat,
- dan kebijakan ekonomi dianggap semakin populis.
Masalah terbesar Indonesia hari ini mungkin bukan sekadar pelemahan rupiah atau turunnya saham.
Masalah terbesarnya adalah:
pasar mulai mempertanyakan apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia benar-benar ditopang fundamental yang kuat, atau hanya ditahan oleh ekspansi APBN dan proyek-proyek politik jangka pendek.
(adm)
