Cuaca Ekstrem Hantam Petani Tembakau Kabuh Jombang, Ratusan Hektare Gagal Panen
Jombang, Headshot Media – Cuaca ekstrem berupa kemarau basah yang melanda kawasan utara Jombang berdampak serius terhadap sektor pertanian, khususnya tanaman tembakau. Di Desa Pengampon, Kecamatan Kabuh, ratusan hektare lahan tembakau dilaporkan rusak parah hingga menyebabkan gagal panen.
Pantauan di lapangan pada Kamis pagi (31/7), hamparan ladang tembakau yang biasanya hijau dan menjanjikan kini terlihat gersang dan rusak. Tanaman tidak tumbuh normal, daun-daun layu dan mengering, batang menghitam, serta akar-akarnya diselimuti jamur putih. Banyak petani akhirnya memilih mencabut tanaman mereka karena dianggap sudah tidak bisa diselamatkan.
Sumardi (53), salah satu petani setempat, menunjukkan lahannya yang kini kosong setelah lima kali upaya tanam yang semuanya berakhir gagal. “Sudah lima kali tanam, lima kali juga gagal total. Modal habis,” ujarnya lirih.
Menurutnya, musim tanam tahun ini terganggu kemarau basah—fenomena saat curah hujan masih tinggi di tengah musim kemarau. “Tembakau tidak cocok dengan kondisi lembab. Begitu sering kena hujan, batang cepat busuk, daun menguning, dan mati,” jelas Sumardi.
Kerugian yang ditanggung petani tidak sedikit. Untuk menanam tembakau di lahan satu hektare, dibutuhkan biaya antara Rp 20 juta hingga Rp 25 juta. “Bayangkan saja kalau lima kali tanam. Bisa ratusan juta rupiah hangus,” tambahnya.

Kondisi semakin diperparah oleh jatuhnya harga jual tembakau. Jika biasanya tembakau kering dihargai Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram, kini hanya laku Rp 4 ribu per kilogram. Bahkan, banyak pengepul enggan membeli karena kualitasnya dinilai buruk.
Ketua Gapoktan Desa Pengampon, Suwandi, membenarkan bahwa kerusakan tanaman tembakau terjadi secara luas. Dari total 345 hektare lahan pertanian di desa tersebut, sekitar 207 hektare ditanami tembakau. Dari luasan itu, lebih dari separuhnya—sekitar 100 hektare lebih—dilaporkan gagal panen.
“Data ini kami kumpulkan sejak pertengahan Juli dari laporan kelompok tani. Dampaknya sangat besar karena hampir seluruh warga desa menggantungkan hidup dari tembakau,” terang Suwandi.
Ia mengungkapkan, tak sedikit petani yang harus berutang ke tengkulak atau koperasi demi bisa menanam tembakau. Kini, hasil panen tak sebanding dengan biaya produksi, membuat banyak keluarga petani terpuruk secara ekonomi.
Gapoktan sebenarnya sudah berupaya memberikan pendampingan melalui edukasi pola tanam hingga dorongan untuk diversifikasi tanaman. Namun, mayoritas petani masih bersikukuh menanam tembakau. “Mereka punya prinsip hidup-mati bersama tembakau. Ketika disarankan pindah ke jagung atau palawija, banyak yang menolak,” ujarnya.
Desa Pengampon selama ini dikenal sebagai sentra produksi tembakau unggulan, terutama jenis virginia dan raja yang dipasok ke pabrikan rokok besar di Jawa Timur. Namun, perubahan iklim yang makin tidak menentu membuat masa depan komoditas andalan desa ini kian terancam.
Suwandi berharap pemerintah turun tangan secara lebih komprehensif, bukan hanya sebatas memberikan bantuan saat bencana gagal panen terjadi. “Kami butuh bimbingan jangka panjang. Harus ada solusi agar petani tetap bisa bertahan di tengah tantangan iklim yang tidak bisa diprediksi,” tandasnya. (*)
Editor : adm
