NasionalPolitics

Dari Gili Trawangan ke Jeruji Besi: Kisah Tragis Misri Puspitasari, Gadis 23 Tahun yang Terseret Pesta Maut Perwira Polisi

Share

HEADSHOT MEDIA – Hidup Misri Puspitasari berubah drastis dalam sekejap. Dari seorang gadis biasa asal Danau Sipin, Jambi, kini ia harus menjalani hari-harinya di balik jeruji besi. Usianya baru 23 tahun. Anak sulung dari enam bersaudara, dibesarkan dalam keluarga sederhana tanpa kehadiran ayah. Ia sempat menamatkan pendidikan SMA, lalu merantau demi membantu perekonomian keluarga. Pilihan hidup membawanya ke dunia hiburan malam sebagai pemandu karaoke di Banjarmasin.

Takdir mulai berubah saat ia berkenalan dengan seorang perwira polisi: Kompol I Made Yogi Purusa Utama, Kasubag Paminal Bidpropam Polda NTB, lulusan Akpol 2010, dan disebut sebagai perwira muda dengan karier moncer. Perkenalan bermula dari media sosial. Obrolan ringan berkembang menjadi tawaran “liburan mewah” ke Gili Trawangan, Lombok—lengkap dengan tiket, vila privat, hingga uang saku Rp 10 juta per malam. Tawaran itu tak mudah ditolak, terutama bagi Misri yang hidup pas-pasan.

Pada 16 April 2025, Misri tiba di Gili. Ia dijemput Brigadir Muhammad Nurhadi, anggota polisi yang disebut hanya sebagai sopir rombongan. Di vila mewah itu, sudah menunggu Kompol Yogi, Ipda I Made Haris Chandra, dan seorang perempuan lain bernama Putri alias Melanie—yang diduga punya latar serupa dengan Misri.

Di sinilah babak baru dimulai. Pesta berlangsung. Alkohol mengalir. Dua jenis obat psikotropika, Riklona (Clonazepam) dan Inex (MDMA), disebut ikut beredar. Kesadaran pun memudar. Misri sempat merekam video singkat berdurasi 7 detik, memperlihatkan Brigadir Nurhadi duduk di kolam jacuzzi. Detik-detik berikutnya menjadi kabur. Nurhadi dikabarkan tenggelam. Kompol Yogi sempat mencoba menyelamatkan, lalu meminta bantuan pihak hotel dan membawa korban ke klinik. Tapi nyawa Nurhadi tak tertolong.

Awalnya, kematian Nurhadi dilaporkan sebagai kecelakaan karena pengaruh alkohol dan obat penenang. Keluarga tak mengizinkan otopsi, dan jenazah dimakamkan secara resmi di Lombok Barat. Tapi dugaan demi dugaan mulai mencuat. Tekanan publik meningkat. Makam pun dibongkar. Hasil otopsi mencengangkan: tulang hyoid patah, leher penuh luka lecet, dan indikasi kekerasan fisik—semua tak wajar untuk kasus tenggelam biasa.

Pada 2 Juli, status hukum Misri berubah. Dari saksi menjadi tersangka. Ia menyusul Kompol Yogi dan Ipda Haris yang lebih dulu ditetapkan sebagai tersangka dan langsung dipecat tidak hormat dari Polri. Kasus ini pun menyedot perhatian nasional.

Spekulasi berkembang liar. Apakah terjadi percekcokan antara Nurhadi dan atasannya? Ada motif cemburu? Konflik pribadi? Hingga kini, motif utamanya masih belum diungkap secara gamblang. Namun, aroma rekayasa mulai tercium. Warganet menyebutnya sebagai “Ferdy Sambo Jilid Dua”—merujuk pada skandal pembunuhan yang mengguncang institusi Polri pada 2022.

Nasib Misri kini di ujung tanduk. Sebagian publik bersimpati, menyebut ia hanya korban dari sistem yang membiarkan perempuan muda tergelincir dalam perangkap kekuasaan dan janji manis. Sebagian lagi mencemooh, menyalahkan pilihan hidupnya yang dekat dengan dunia malam.

Namun, di balik hiruk-pikuk komentar publik, ada satu hal yang tak terbantahkan: malam di Gili Trawangan telah memakan korban. Seorang polisi muda kehilangan nyawa dalam situasi penuh misteri. Dua perwira hancur kariernya. Dan Misri, yang hanya ingin menjemput rezeki, kini terperangkap dalam labirin hukum dan stigma sosial yang berat.

Hingga kini, publik menanti transparansi dan keadilan. Benarkah Misri pelaku? Ataukah sekadar pion kecil dalam pesta kekuasaan yang berujung maut?

(HEADSHOT | Investigasi | 2025)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *