EntertainmentEntertineInfo DaerahPeristiwaRagam Budaya

Petik Laut Desa Labuhan: Tiga Hari Penuh Syukur, Silaturahmi, dan Gairah Budaya Lokal

Share

Labuhan, Sreseh, Sampang – Headshot Media
Suasana penuh syukur dan kegembiraan mewarnai Desa Labuhan, Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang, selama tiga hari berturut-turut, 9–11 Juni 2025. Warga dari berbagai penjuru desa, bahkan yang merantau ke luar daerah dan luar negeri ikut mendukung, agenda tahunan kampung untuk turut serta dalam Petik Laut atau Sedekah Desa—sebuah tradisi turun-temurun yang kembali digelar dengan meriah.

Berlangsung selama tiga hari penuh, kegiatan ini tak hanya menjadi ajang ritual tahunan, namun juga panggung ekspresi budaya dan kebersamaan warga. Rangkaian kegiatan dimulai dengan khatmil Qur’an, pengajian umum, hingga tayub khas Madura yang disambut antusias warga lintas usia. Puncak acaranya ditandai dengan konser dangdut spektakuler yang menghadirkan Orkes New Samba dari Jombang, didukung tata suara dan panggung megah oleh AJ Production—juga berasal dari Jombang.

“Kegiatan ini punya tiga misi utama,” terang Syaiful Bahri, Ketua Panitia, kepada wartawan Headshot Media di sela-sela persiapan acara.
“Pertama, sebagai bentuk syukur atas berkah dan perlindungan dari Allah SWT, terutama atas rezeki yang melimpah dari laut bagi warga sini. Kedua, untuk mempererat silaturahmi antarwarga. Dan ketiga, menjaga serta melestarikan budaya nenek moyang yang sudah menjadi identitas desa ini sejak dulu.”

Menurut Syaiful, tahun ini Petik Laut sepenuhnya dibiayai dari hasil urunan warga, baik yang tinggal di desa maupun yang berada di perantauan. “Dari warga, untuk warga. Inilah kekuatan solidaritas yang tidak bisa dinilai dengan uang,” tambahnya.

Rangkaian Kegiatan Petik Lauh Labuhan Sreseh Sampang Madura

Pernyataan tersebut diamini oleh Kepala Desa Labuhan, Jawahir, yang turut hadir dan memberikan sambutan dalam puncak kegiatan. Dalam orasinya, Jawahir menekankan pentingnya menjaga kebersamaan dan kohesi sosial antarwarga desa.
“Kita tumbuh dan hidup bersama di desa ini. Maka suasana yang damai dan kondusif sangat tergantung pada jalinan baik antarkita semua,” ujar Jawahir, disambut tepuk tangan meriah.

BACA JUGA :  Menko Pangan Zulkifli Hasan Hadiri Wisuda UNWAHA Jombang, Dorong 600 Sarjana Berani Hadapi Tantangan Kehidupan

Namun, tak hanya berhenti di situ. Dalam nada yang menggugah dan sedikit memancing reaksi, Jawahir melempar pertanyaan yang segera disambut gegap gempita:
“Untuk tahun depan, bagaimana kalau kegiatan ini tidak lagi dibiayai dari urunan warga, tapi sepenuhnya ditanggung dari anggaran desa? Mau?”

Teriakan “Mau!” menggema dari berbagai penjuru lapangan. Beberapa warga bahkan bersorak sambil tersenyum lebar, menandakan harapan besar terhadap perhatian dan keberpihakan pemerintah desa pada budaya lokal. Di antara kerumunan, seorang bapak paruh baya terdengar bergumam lirih tapi mengena, “Gitu dong. Buat apa dana desa besar kalau kegiatan desa masih harus dari urunan warga?”

Ucapan yang singkat, namun sarat kritik dan harapan.

Kegiatan Petik Laut Desa Labuhan bukan sekadar pesta rakyat. Ia adalah napas kolektif warga, tempat di mana spiritualitas, kebudayaan, dan kebersamaan bertemu dalam satu panggung yang hidup. Di tengah tantangan zaman dan perubahan sosial yang cepat, Desa Labuhan menunjukkan bahwa kearifan lokal dan solidaritas sosial masih bisa jadi pilar kekuatan masyarakat.

Dengan tekad untuk menjadikan acara ini sebagai agenda tahunan yang khas dan unggulan desa, warga Labuhan sekali lagi membuktikan bahwa tradisi bukanlah beban masa lalu, melainkan jembatan menuju masa depan yang lebih kuat dan bersatu.

—
Reporter: Tim Headshot Media | Foto: Dokumentasi Warga Labuhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *