Info Daerah

Banjir Landa 13 Desa di Jombang, Kadis PUPR: Saluran Tak Mampu Tampung, Air Brantas Ikut Naik

Share

Headshot Jombang — Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Jombang sejak Minggu malam hingga Senin pagi (9/6/2025) menyebabkan genangan air di sejumlah wilayah. Sedikitnya 13 desa di berbagai kecamatan terdampak banjir, dengan ketinggian air bervariasi mulai dari mata kaki hingga setinggi dada orang dewasa. Tak hanya merendam rumah warga, banjir juga menggenangi lahan pertanian yang baru ditanami, memicu kerugian bagi petani kecil.

Di Dusun Grudo, Desa Madiopuro, Kecamatan Sumobito, air mulai masuk ke permukiman sejak pukul 07.00 WIB. Sutrisno (55), seorang warga setempat, mengatakan air datang dari arah barat, diduga akibat luapan sungai kecil yang tidak mampu menampung limpasan hujan. “Tanaman jagung kami baru saja tumbuh, sekarang semuanya terendam,” ujarnya.

Curah Hujan Ekstrem, Sungai Brantas Meluap

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Jombang, Bayu Pancoroadi, menjelaskan bahwa genangan air disebabkan oleh curah hujan tinggi yang terjadi merata di hampir seluruh wilayah. “Terdapat dua stasiun hujan yang mencatat intensitas ekstrem, dan 14 lainnya mencatat hujan sangat lebat. Ini kejadian yang memang cukup luar biasa,” jelasnya kepada Headshot Media.

Lebih lanjut Bayu menjelaskan, posisi geografis Kabupaten Jombang yang berada di tengah aliran Sungai Brantas juga mempengaruhi kecepatan surutnya air. Ketika permukaan Brantas tinggi, air dari saluran pembuang di wilayah Jombang tidak bisa langsung mengalir, dan harus menunggu hingga debit sungai menurun.

Situasi serupa juga terjadi di beberapa daerah lain di Jawa Timur seperti Mojokerto dan Gresik, menunjukkan bahwa fenomena ini terjadi cukup meluas di wilayah regional.

Petani Merugi, Warga Menanti Bantuan

Selain mengganggu aktivitas warga, banjir juga berdampak pada sektor pertanian. Tanaman jagung yang baru saja ditanam banyak yang terendam dan rusak. “Sudah beberapa kali tanam, tapi tahun ini sulit. Baru tumbuh sebentar, hujan besar datang dan lahan terendam lagi,” ujar Sutrisno dengan nada tenang.

BACA JUGA :  Polsek Ngusikan Berkolaborasi dengan Petani Wujudkan Ketahanan Pangan

Beberapa warga berharap adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah daerah, terutama bagi mereka yang mengalami kerugian akibat gagal panen. Hingga Senin sore, sebagian warga mengaku belum menerima bantuan logistik, namun tetap berusaha bersabar sambil menunggu perkembangan.

14 Stasiun Catat Curah Hujan Sangat Lebat

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Jombang, Bayu Pancoroadi, menyebut bahwa banjir yang terjadi kali ini dipicu oleh intensitas hujan yang sangat tinggi dan merata di seluruh wilayah Jombang.

“Sebanyak 14 stasiun hujan mencatat curah hujan kategori sangat lebat, dan dua lainnya bahkan mencatat kategori ekstrem,” ujarnya. Berdasarkan data dari sistem pemantauan curah hujan harian, berikut adalah sebaran intensitas yang tercatat:

  • Stasiun Mojowarno: 152 mm/hari (sangat lebat)
  • Stasiun Plandaan: 139 mm/hari (sangat lebat)
  • Stasiun Sumobito: 161 mm/hari (ekstrem)
  • Stasiun Jogoroto: 147 mm/hari (sangat lebat)
  • Stasiun Diwek: 136 mm/hari (sangat lebat)
  • Stasiun Ngoro: 158 mm/hari (ekstrem)
  • Stasiun Tembelang: 143 mm/hari
  • Stasiun Peterongan: 130 mm/hari
  • Stasiun Kudu: 125 mm/hari
  • Stasiun Megaluh: 132 mm/hari
  • Stasiun Bandar Kedungmulyo: 128 mm/hari
  • Stasiun Bareng: 134 mm/hari
  • Stasiun Gudo: 141 mm/hari
  • Stasiun Wonosalam: 150 mm/hari

Sebagai catatan, menurut klasifikasi BMKG:

  • Hujan >150 mm/hari tergolong ekstrem
  • Hujan 100–150 mm/hari tergolong sangat lebat

Bayu juga menambahkan bahwa Jombang terletak di tengah-tengah Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Ketika air di Sungai Brantas sedang tinggi, seluruh saluran pembuang di Jombang tak bisa langsung mengalirkan air ke sungai utama. “Inilah mengapa genangan bisa bertahan lama. Debit tinggi Brantas membuat air dari desa-desa tertahan.”

Harapan Warga: Ada Perubahan Nyata

Banjir tidak hanya berdampak pada aktivitas harian warga, tapi juga sektor pertanian dan ekonomi. Jagung, padi, dan cabai yang baru ditanam banyak yang terendam. “Kami paham ini hujan besar, tapi harapan kami ke depan adalah ada perbaikan saluran. Supaya saat musim hujan seperti ini, banjir tidak terus berulang,” ucap Heru, petani asal Kecamatan Tembelang.

BACA JUGA :  PUPR Jombang Benahi Jalan Mayjend Sungkono dan Kemuning, Bahu Jalan Diperkuat dan Permukaan Ditingkatkan

Beberapa warga juga masih menanti bantuan logistik dan pendataan kerugian. Mereka berharap agar perhatian pemerintah tidak hanya datang saat bencana berlangsung, tetapi juga melalui program pencegahan dan kesiapsiagaan yang nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *