NasionalPolitics

#SaveRajaAmpat Suara yang Dihilangkan, Luka yang Diabaikan

Share

Di balik beningnya laut Raja Ampat dan hijaunya gugusan karst yang menjulang, tersembunyi jeritan yang tak terdengar di ruang-ruang kekuasaan. Bukan jeritan politisi, bukan pula tuntutan investor. Ini suara anak-anak Papua—liris, jujur, dan penuh luka. Mereka tak punya panggung untuk berdebat, tak menggenggam kuasa atas pasal-pasal hukum, tapi mereka menyimpan sesuatu yang lebih dalam: kesaksian atas kehancuran rumah mereka.

Ketika bumi adat dilubangi, ketika hutan-hutan roboh oleh rakusnya mesin tambang, bukan hanya alam yang terluka—jiwa mereka pun ikut tercabik. Dalam puisi yang mereka titipkan ini, kita diajak untuk tidak hanya melihat Papua sebagai potensi kekayaan alam, tapi sebagai tanah yang bernyawa, yang disucikan, yang dicintai. Dan kini, tanah itu menangis.

Puisi ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah perlawanan sunyi, yang menyeret kita untuk bertanya ulang: pembangunan untuk siapa, dan masa depan yang seperti apa?

#SaveRajaAmpat bukan sekadar tagar. Ia adalah panggilan nurani.

Untuk kita yang masih punya telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, dan hati untuk merasakan.

Begini Puisi yang menyayat hati anak Papua

Suara perih anak papua akibat keserakahan  perampok SDA

#SaveRajaampat

Kami anak-anak Papua

Kami tak pandai berdebat di meja rapat

Kami tak punya kekuatan untuk menulis undang-undang

Tapi kami tahu persis arti kehilangan

Karena kami sedang mengalaminya

Dalam diam, dalam luka, dalam air mata

Raja ampat surge kecil di timur dunia

Tempat angina dan karang saling menyapa

Tempat laut bersujud dikaki langit

Tempat kami belajar bernafas dalam keheningan

Alam yang penuh kasih

Kini wajahmu tercabik

Perutmu ditusuk

Dada pegununganmu dirobek oleh mesin-mesin tamak

Dan haus akan nikel, akan laba

Kami tak mengerti mengapa tambang boleh masuk ke tanah adat

Tempat yang disucikan oleh leluhur kami

Mereka katakana itu sah

Mereka katakana itu demi masa depan

Tapi… apakah masa depan harus dibangun atas kehancuran masa kini?

Kami melihat hutan roboh

Kami melihat air berubah hitam

Kami melihat langit kami berdebu

Dan kami melihat wajah ibu yang dulu penuh menyala

Kini duka tak henti-hentinya menyelimutinya

Catatan Redaksi Headshot Media:

Kami menerbitkan puisi ini sebagai bentuk solidaritas terhadap suara-suara kecil yang kerap diabaikan. Tulisan ini adalah bagian dari komitmen kami untuk menyuarakan ketidakadilan ekologis dan sosial di tanah Papua. Jika Anda merasa tergugah, sebarkan tulisan ini. Suara anak Papua tak boleh diredam oleh bisingnya mesin dan dinginnya kekuasaan. (ear)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *