Info Daerah

BEREBUT PUJIAN DEMI KURSI KEPALA SEKOLAH korbankan PERUT DAN KERINGAT RAKYAT MISKIN (Surat Terbuka Untuk Bupati Warsubi)

Share

Oleh : Suwiryo (Warga Jombang)

Bebarapa hari yang lalu seorang warga Jombang Bernama Suwiryo yang juga mengaku pendukung pak Warsubi saat pilkada lalu, dia menuliskan surat terbuka melalui akun facebook nya Waskito Wiryo tentang kursi kepala sekolah, begini tulisan selengkapnya.

Kpd Yth Bapak Warsubi Bupati Kabupaten Jombang.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, pernalkan nama saya Suwiryo adalah warga asli Jombang dan kebetulan saya juga pendukung anda saat pemilu kemarin,

Sebelumnya saya minta maaf apabila saya menulis surat terbuka kepada bapak melalui media sosial ini, hal ini dikarenakan apa akan saya sampaikan merupakan masalah yang dapat mengancam keselamatan saya khususnya masa depan anak saya yang masih usia sekolah,

ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada Bapak untuk dapat dipertimbangkan dalam merumuskan kebijakan yang berpihak kepada rakyat kecil antara lain :

1. Maraknya kegiatan wisuda/purnawiyata baik dari jenjang TK, SD, SMP, dan SMA yang sebenarnya tidak ada manfaatnya secara langsung terhadap prestasi belajar, semata-mata hanya bersifat foya-foya terlebih acara diadakan dengan meriah secara otomatis mengeluarkan biaya yang besar selain itu saat persiapan pastinya mengganggu jam pembelajaran yang semestinya anak mendapatkan pengetahuan tetapi waktu belajar dihabiskan hanya untuk latihan terlebih waktu latihannya sampai berhari-hari bahkan mengabaikan ujian yang seharusnya dipersiapkan untuk bersaing dengan siswa dari sekolah lain, hal ini sangat tidak sesuai dengan tujuan awal sekolah agar dapat bersaing dengan siswa dari sekolah lain untuk masuk ke sekolah favorit, mohon dikeluarkan surat pelarangan atau pembatasan kegiatan tersebut

2. Pembelian seragam sekolah diwajibkan oleh sekolah melalui Komite alih-alih seragam khas sekolah yang tidak ada duanya bahkan pernah menjadi ikon kebanggan dinas pendidikan kabupaten, seragam khas itu tidak tersedia di toko atau di tempat lain sehingga saya terpaksa membeli yang sangat disayangkan warnanya mudah luntur sehingga belum genap 1 tahun sudah tampak tidak layak pakai, secara otomatis tidak bisa diwariskan ke adik kelasnya sehingga dengan sangat terpaksa harus beli lagi, mohon dikeluarkan surat pelarangan atau pembatasan kegiatan pembelian seragam tersebut

BACA JUGA :  Menko Pangan Zulkifli Hasan Hadiri Wisuda UNWAHA Jombang, Dorong 600 Sarjana Berani Hadapi Tantangan Kehidupan

3. Iuran atau sumbangan untuk kegiatan pendukung diluar pembelajaran yang dilakukan oleh pihak sekolah melalui Komite atau melalui bendahara kelas meskipun dilakukan dengan mencicil hal ini sangat tidak sesuai dengan istilah “pemerintah memberikan pelayanan sekolah gratis” faktanya setiap ada kegiatan masih saja ada iuran atau tarikan, tak jarang anak-anak dipaksa oleh wali kelasnya untuk membayar iuran ini iuran itu yang tidak ada kaitannya dengan pembelajaran sama sekali.

4. Kebiasaan negatif guru di sekolah dilakukan didepan anak didiknya salah satu contohnya : merokok, dengan susah payah saat dirumah saya jelaskan tentang bahaya merokok tetapi gurunya sendiri merokok ditempat terbuka dimana anak-anak melihatnya secara langsung, kebiasaan lainnya bercanda yang bersifat menghina fisik bahkan lebih parahnya hal tersebut sering diucapkankan oleh Kepala Sekolah sendiri (kepala sekolah kaya, penguasa, pengusaha, mafia politik) tidak tersentuh oleh hukum alias kebal hukum.

5. Digitalisasi sekolah yang kebablasan dan tanpa pembimbingan terarah, seluruh siswa diwajibkan membawa laptop atau minimal HP, namun karena pengawasannya yang sangat minim beberapa pelanggaran justru berawal dari HP atau laptop melalui media sosial, yang semestinya para murid diajar membaca, menulis dan berhitung justru sebaliknya disekolah anak saya, lebih memprihatinkan ketika saya tanya perkalian satu atau dua angka dia tidak bisa menjawab karena disekolah dibiasakan menggunakan google melalui HP atau Laptop, maunya canggih tetapi faktanya malah bodoh, hal itu dibuktikan pada tahun 2024 yang lalu tidak ada satupun murid yang lolos melalui jalur prestasi di sekolah negeri jenjang selanjutnya.

demikian surat terbuka saya kepada Bupati Jombang Bapak Warsubi semoga dapat menjadi bahan renungan bagi bapak untuk menentukan keputusan atau kebijakan dan berpihak pada rakyat kecil seperti kami

BACA JUGA :  Kanit Binmas Polsek Diwek Tinjau Tanaman Jagung, Dukung Program Ketahanan Pangan

mohon dengan segala kerendahan hati, kembalikan sekolah ke tujuan awal untuk membentuk insan unggul yang seutuhnya.

atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih,

Waalaikumsalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hormat saya,

Suwiryo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *