Berita TerbaruBusinessInfo DaerahTrending

Sepinya Pembeli di Pujasera Kebonrojo, Pedagang Keluhkan Kondisi yang Tidak Terawat

Share

kondisi pujasera Kebonrojo yang sepi

Sejumlah pedagang di Pujasera Kebonrojo mulai mengeluhkan sepinya pembeli yang datang ke tempat mereka berjualan. Salah satu pedagang yang enggan disebutkan namanya menyampaikan bahwa tingkat kunjungan masyarakat ke dalam area pujasera masih sangat rendah, sehingga berpengaruh besar terhadap omzet penjualan mereka.

“Kalau berjualan di dalam, masih sepi pembeli,” ujarnya dengan nada prihatin. Menurutnya, kondisi ini terjadi karena banyak calon pembeli enggan masuk ke dalam pujasera yang dinilai kurang menarik dan kurang nyaman.

Ia menambahkan bahwa tanpa adanya pengelolaan yang lebih baik dan perbaikan dari pihak terkait, masyarakat semakin malas untuk datang dan berbelanja di dalam area pujasera.

“Kalau tidak segera diperbaiki dan dikelola dengan baik, pembeli pasti akan enggan masuk. Dagangan kami pun jadi semakin sepi,” tambahnya.

Pujasera Kebonrojo Terancam Mati, Banyak Pedagang Memilih Pergi

Fenomena ini bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Sebelumnya, Pusat Jajanan Serba Ada (Pujasera) Kebonrojo sudah berada dalam kondisi mengkhawatirkan akibat minimnya jumlah pembeli. Hal ini menyebabkan banyak pedagang akhirnya memilih meninggalkan tempat mereka berjualan karena merasa tidak mendapatkan keuntungan yang cukup untuk menutupi biaya operasional.

Lapak-lapak yang ditinggalkan para pedagang pun kini tampak terbengkalai dan tidak terawat, sehingga memperburuk tampilan pujasera secara keseluruhan. Pemandangan ini menjadikan wajah pujasera semakin semrawut dan tidak menarik bagi pengunjung.

Selain itu, pedagang yang masih bertahan di Pujasera Kebonrojo merasa semakin terjepit karena di sekitar Taman Kebonrojo jumlah pedagang kaki lima (PKL) semakin menjamur. Keberadaan PKL yang berjualan di luar area pujasera membuat pengunjung lebih memilih untuk membeli makanan atau jajanan dari mereka dibanding harus masuk ke dalam pujasera yang dinilai kurang nyaman dan kurang hidup.

BACA JUGA :  Pemkab Jombang Tingkatkan Jalan Kemuning Senilai Rp1,16 Miliar, Pengecoran dan Pengaspalan Dikebut

DLH Jombang Turun Tangan, Penataan Pujasera Dimulai

Menanggapi kondisi ini, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang akhirnya turun tangan untuk menata kembali Pujasera Kebonrojo. Salah satu langkah yang diambil oleh DLH adalah melakukan koordinasi dengan Paguyuban PKL Kebonrojo untuk mencari solusi terbaik dalam menghidupkan kembali pujasera yang mulai mati suri.

Sebagai bagian dari upaya penertiban dan optimalisasi penggunaan tempat, DLH memberikan tenggat waktu selama 14 hari kepada para pedagang yang tidak lagi menempati lapaknya untuk segera membersihkan lapak mereka atau kembali berjualan di sana. Tenggat waktu ini mulai dihitung sejak tanggal 30 Juli sebagai batas akhir bagi para pedagang untuk mengambil keputusan.

Dalam upaya penataan ini, DLH juga melakukan pendataan terhadap jumlah lapak yang masih aktif dan yang sudah kosong. Di lokasi Pujasera Kebonrojo sendiri terdapat dua blok utama, yakni Blok A dan Blok B, dengan rincian sebagai berikut:

  • Blok A memiliki total 65 lapak, di mana 15 di antaranya kosong dan 50 sisanya masih ditempati oleh 39 pedagang.
  • Blok B terdiri dari 55 lapak, dengan 15 kios kosong, sementara 30 lapak lainnya masih digunakan oleh 21 pedagang.

Melihat jumlah lapak yang tidak terpakai cukup banyak, upaya DLH dalam merapikan dan menata kembali area ini diharapkan bisa menghidupkan kembali suasana di Pujasera Kebonrojo, sehingga lebih menarik bagi pengunjung.

Harapan Pedagang: Perbaikan dan Pengelolaan yang Lebih Baik

Para pedagang berharap bahwa dengan adanya penataan yang dilakukan oleh DLH, Pujasera Kebonrojo dapat kembali ramai seperti dulu. Mereka menginginkan adanya upaya lebih lanjut, baik dari segi perbaikan fasilitas, promosi, maupun pengelolaan yang lebih profesional agar pujasera bisa bersaing dengan para pedagang kaki lima di sekitarnya.

BACA JUGA :  Polsek Ngusikan Berkolaborasi dengan Petani Wujudkan Ketahanan Pangan

“Kami ingin ada perubahan yang nyata. Kalau tempat ini dibiarkan terus seperti sekarang, kami yang masih bertahan pun akan sulit untuk mencari nafkah,” ungkap salah satu pedagang dengan penuh harap.

Kini, nasib Pujasera Kebonrojo bergantung pada langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah setempat. Jika penataan dilakukan secara serius dan berkelanjutan, ada harapan bahwa pujasera ini bisa kembali hidup dan menjadi tempat kuliner yang ramai dikunjungi masyarakat (Kas).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *