Arah Ekonomi Global di Tengah Ketidakpastian dan Perang, Bagaimana Indonesia?
Penulis : Cak Earl Mahasiswa S2 Ekonomi Pembangunan Undar
Pada tahun 2025, ekonomi global menghadapi suasana yang penuh ketidakpastian akibat berbagai faktor seperti ketegangan geopolitik, perang, dan kebijakan proteksionis. Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan melambat menjadi sekitar 3,2 persen pada 2025 dan sedikit menurun menjadi 3,1 persen pada 2026, lebih rendah dibanding tren prapandemi. Inflasi global perlahan menurun, namun masih tinggi di beberapa negara, terutama di Amerika Serikat yang menghadapi inflasi di atas target.
Perang, seperti ketegangan antara negara-negara besar di kawasan minyak dan konflik yang terjadi, berdampak signifikan terhadap ekonomi global. Harga minyak melambung lebih dari $100 per barel akibat gangguan pasokan dari jalur strategis seperti Selat Hormuz. Kenaikan harga energi ini berimbas pada kenaikan biaya produksi dan logistik di seluruh dunia, yang akhirnya menekan daya beli masyarakat dan mendorong inflasi lebih tinggi.
Selain itu, ketidakpastian global yang disebabkan oleh berbagai kebijakan perdagangan proteksionis dan volatilitas pasar keuangan juga menimbulkan risiko serius bagi pertumbuhan ekonomi dunia. Ketegangan dagang dan tarif yang lebih tinggi menghambat aliran barang dan jasa, memperlambat pemulihan ekonomi pascapandemi dan menanamkan ketidakpastian di kalangan pelaku usaha.
Dampak Ketidakpastian Global dan Perang pada Ekonomi Indonesia
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang dengan keterbukaan ekonomi yang cukup besar merasakan dampak langsung dari ketidakpastian global ini. Meskipun demikian, pada kuartal pertama tahun 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih stabil di kisaran 4,9 persen, yang menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan global.
Harga energi yang meningkat akibat ketegangan geopolitik dunia menyebabkan biaya produksi di Indonesia pun naik. Rupiah juga mengalami tekanan akibat aliran modal keluar yang dipicu oleh kenaikan suku bunga global dan gejolak energi, yang berpengaruh pada inflasi domestik dan margin keuntungan sektor perbankan.
Selain itu, ketidakpastian di pasar global menghambat investasi dan perdagangan Indonesia, karena pelaku usaha berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi dan ekspansi. Kebijakan proteksionis yang diterapkan oleh mitra dagang utama juga membatasi penetrasi produk Indonesia di pasar global.
Antisipasi dan Strategi Ekonomi Indonesia
Untuk mengatasi dampak ketidakpastian dan perang di level global, Indonesia mengimplementasikan berbagai strategi ekonomi yang adaptif dan berfokus pada penguatan ketahanan domestik. Pemerintah memperkuat peran APBN sebagai bantalan ekonomi melalui peningkatan belanja sosial, subsidi, dan insentif terutama bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sehingga meningkatkan daya beli masyarakat dan mempertahankan konsumsi domestik.
Pemerintah juga mendorong investasi terutama yang terkait dengan proyek strategis nasional dan peningkatan kapasitas produksi dalam negeri. Investasi non-bangunan yang masuk dalam bentuk impor barang modal seperti alat berat terus meningkat sebagai tanda keberlanjutan ekspansi industri.
Dalam rangka menjaga stabilitas makroekonomi, Bank Indonesia bersama pemerintah menjalankan kebijakan moneter dan fiskal yang sinkron, menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta memfasilitasi likuiditas dan pembiayaan yang inklusif bagi sektor produktif. Digitalisasi UMKM dan peningkatan ketahanan pangan menjadi fokus untuk meningkatkan ekonomi inklusif dan mandiri.
Strategi perdagangan juga difokuskan pada pengembangan pasar ekspor yang lebih luas, termasuk kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat dan mitra strategis lainnya sebagai upaya mengurangi ketergantungan pasar tertentu dan membuka peluang baru.
Kesimpulan
Arah ekonomi global tahun 2025 berada di tengah ketidakpastian tinggi akibat perang, ketegangan geopolitik, dan kebijakan proteksionis yang menekan pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. Dampaknya dirasakan pula oleh ekonomi Indonesia melalui kenaikan harga energi, tekanan terhadap nilai tukar, dan ketidakpastian investasi.
Namun, Indonesia menunjukkan daya tahan ekonomi yang solid dengan pertumbuhan positif, berkat peran aktif pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat konsumsi domestik, dan mengoptimalkan investasi strategis. Ke depan, adaptasi dengan meningkatkan digitalisasi, memperluas perdagangan, dan memperkuat ketahanan pangan serta industri dalam negeri menjadi kunci antisipasi yang penting bagi ekonomi Indonesia untuk menghadapi tantangan global.
