EconomyNasional

Proyek Kereta Cepat Masih Rugi, Konsorsium BUMN Tanggung Beban Rp 1,6 Triliun di 2025

Share

Jakarta, 16 Agustus 2025 – Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh kembali menjadi sorotan setelah terungkap bahwa konsorsium Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terlibat dalam pendanaannya harus menanggung kerugian besar pada tahun 2025. Hingga pertengahan tahun ini, total kerugian yang ditanggung mencapai lebih dari Rp 1,6 triliun.

Proyek yang dikerjakan sejak 2016 tersebut mengalami pembengkakan biaya (cost overrun) hingga mencapai 1,2 miliar dolar AS (sekitar Rp 18 triliun). Berdasarkan hasil audit bersama antara Indonesia dan China, total anggaran proyek kini mencapai 7,27 miliar dolar AS atau sekitar Rp 108 triliun.

Pendanaan proyek ini didominasi oleh pinjaman dari China Development Bank (CDB), sementara sisanya berasal dari APBN dan penyertaan modal dari konsorsium perusahaan BUMN Indonesia dan mitra dari Tiongkok.

BUMN Tanggung Kerugian Konsorsium PSBI

Dalam laporan keuangan PT Kereta Api Indonesia (KAI) per 30 Juni 2025 (unaudited), terungkap bahwa entitas asosiasinya, PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), mencatatkan kerugian sebesar Rp 1,625 triliun selama semester I 2025. Tahun sebelumnya, kerugian PSBI bahkan mencapai Rp 4,19 triliun.

Sebagai pemegang saham mayoritas di PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), kerugian PSBI turut membebani keuangan para BUMN yang menjadi pemegang sahamnya. KAI, yang memiliki 58,53% saham di PSBI, menanggung rugi sebesar Rp 951,48 miliar hanya dalam enam bulan pertama tahun ini. Pada 2024, kerugian yang ditanggung KAI bahkan lebih besar, mencapai Rp 2,23 triliun.

Struktur Konsorsium dan Beban Utang

PT PSBI merupakan konsorsium yang dibentuk oleh empat BUMN Indonesia: PT KAI, PT Wijaya Karya, PT Jasa Marga, dan PTPN VIII. Keempat perusahaan ini bertanggung jawab atas 60% saham KCIC. Sementara 40% saham lainnya dimiliki oleh konsorsium perusahaan China yang terdiri dari lima entitas, termasuk China Railway International dan CRRC Corporation.

Seluruh beban utang dan bunga pinjaman proyek dibebankan kepada pemegang saham KCIC, termasuk biaya operasional Whoosh yang hingga kini masih belum menunjukkan profitabilitas.

Restrukturisasi Diupayakan Lewat Danantara

Melihat tekanan keuangan yang terus meningkat, pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menyatakan akan turun tangan. CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan pihaknya tengah melakukan evaluasi menyeluruh untuk merumuskan langkah restrukturisasi utang proyek kereta cepat ini.

“Kita sedang evaluasi agar langkah corporate action yang diambil bisa tuntas dan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek,” ujar Rosan.

Langkah restrukturisasi juga sebelumnya sempat disinggung oleh COO Danantara, Dony Oskaria, yang menyatakan akan mengusulkan beberapa opsi penyelesaian kepada pemerintah.

Tantangan Ke Depan

Meski Whoosh telah beroperasi dan menjadi simbol kemajuan transportasi modern di Indonesia, tantangan finansial yang dihadapi proyek ini menunjukkan bahwa pengelolaan infrastruktur berskala besar memerlukan perencanaan matang dan strategi pembiayaan berkelanjutan. Proses restrukturisasi yang kini tengah dirancang diharapkan mampu memberikan kejelasan arah bagi masa depan proyek dan menjaga kesehatan keuangan BUMN yang terlibat.(*)

Editor : Adm


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *