EntertainmentEntertineInfo Daerah

Teater Darpana: Cermin Getir Post Power Syndrome di Panggung Komunitas TomboAti Jombang

Share

Headshot Media – Ratusan penonton dari berbagai kalangan memadati Gedung Kesenian Jombang pada Sabtu malam (3/8). Mereka antusias menyaksikan pertunjukan teater bertajuk Darpana, produksi ke-44 Komunitas TomboAti yang sekaligus menandai usia ke-29 komunitas seni tersebut.

Pertunjukan berdurasi dua jam itu menyuguhkan kisah sarat simbolisme tentang pergulatan batin seorang kepala keluarga yang mengalami post power syndrome, yakni kondisi psikologis ketika seseorang kehilangan pengaruh atau kekuasaan yang pernah dimilikinya. Kisah ini dituturkan lewat panggung bergaya kerajaan pewayangan, lengkap dengan tata artistik megah seperti singgasana besar dan cermin raksasa sebagai latar utama.

“Darpana berarti cermin dalam bahasa Sanskerta. Kami ingin penonton berkaca, karena siapa pun bisa menjadi Aryo jika tak siap menghadapi kenyataan,” ujar Imam Ghozali Ar, sutradara pertunjukan sekaligus pendiri TomboAti, yang baru saja memasuki masa purnatugas.

Aryo, tokoh utama dalam pertunjukan, digambarkan sebagai pria yang pernah disegani di masyarakat namun kini terpuruk dalam delusi. Ia menciptakan dunia imajiner berbasis pewayangan: istrinya diasosiasikan dengan Dewi Sinta, pembantunya dianggap Prahasta, dan rumahnya diubah menjadi “kerajaan” tempat ia tetap menjadi penguasa.

“Ini ruang katarsis bagi saya. Aryo adalah refleksi dari banyak orang yang belum siap melepaskan masa kejayaannya,” kata Imam.

Pertunjukan ini juga menyisipkan elemen komedi melalui tokoh Kidang Alit, yang dimainkan oleh komedian lokal Cak Ukil (Moh. Shuluhil Amin). Lewat gaya dagelan khasnya, ia berhasil memancing tawa di tengah atmosfer cerita yang sebenarnya tragis.

Namun di balik gelak tawa itu, Darpana menyimpan pesan menyentuh. Adegan klimaks menunjukkan keluarga Aryo akhirnya harus mengambil keputusan sulit: membawanya ke rumah sakit jiwa. “Cinta kadang butuh keberanian untuk membuat keputusan pahit demi kebaikan bersama,” jelas Imam.

BACA JUGA :  Tradisi Pedang Pora Iringi Pisah Sambut Kapolres Jombang

Naskah Darpana merupakan adaptasi bebas dari karya legendaris Nano Riantiarno, Maaf, Maaf, Maaf. Penulis naskah, Fandi Ahmad, menyebut hanya sekitar 60 persen dari alur asli yang dipertahankan. Sisanya digubah agar lebih kontekstual dengan realitas hari ini, termasuk mengangkat inspirasi dari pengalaman pribadi sang sutradara.

“Ini semacam terapi emosional bagi kami semua yang terlibat. Bukan sekadar pentas, tapi juga perjalanan batin,” tutur Fandi.

Dengan kombinasi visual panggung yang detail, tata musik yang menyatu, serta dialog yang kuat, Darpana sukses menyampaikan pesan yang dalam tanpa kehilangan daya hiburnya. Tepuk tangan panjang penonton mengiringi penutupan tirai. Namun yang lebih membekas adalah keheningan saat mereka keluar dari gedung—sebuah pertanda bahwa pertunjukan ini telah meninggalkan gema reflektif di benak masing-masing. (*)

Editor : adm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *