Tindak Lanjuti Hasil Rembuk, PKL Jombang Mantapkan Penataan SWK Ahmad Dahlan: “Dulu Kaki Lima, Kini Kreatif Lapangan”
Headshotmedia.my,id — Komunitas Pedagang Kreatif Lapangan (PKL) di Sentra Wisata Kuliner (SWK) Jalan Ahmad Dahlan, Jombang, mulai menindaklanjuti hasil Rembug Bareng PKL yang digelar bersama Bupati Jombang Warsubi pada pertengahan Mei lalu. Dalam pertemuan yang bertajuk “Bupati Dengar, Rangkul, Bangun dengan Hati”, para PKL menyampaikan berbagai keluhan dan harapan pascarelokasi, yang kemudian dijawab dengan komitmen kolaboratif dari pemerintah daerah.
Sebagai langkah lanjut, lebih dari seratus pedagang kembali berkumpul dalam forum koordinasi internal komunitas PKL untuk memperkuat tata kelola dan penataan lapak di SWK Ahmad Dahlan. Dalam forum ini, Fatah Rokhim selaku koordinator menegaskan bahwa pedagang diminta tidak melakukan perubahan fisik terhadap bangunan.
“Kami diminta untuk tidak mengubah bentuk bangunan karena masih masa pemeliharaan oleh kontraktor. Jika diubah, bisa diperiksa oleh inspektorat. Tapi penambahan fasilitas seperti listrik dan air diperbolehkan,” jelasnya.
Arahan tersebut mengacu pada penjelasan dari Dinas terkait yang hadir dalam koordinasi lanjutan ini. Upaya menjaga kelayakan fasilitas dianggap penting agar SWK tetap menjadi ruang usaha yang tertib dan layak pakai dalam jangka panjang.
Lebih jauh, forum juga menyepakati pembaruan identitas. Bila sebelumnya para pelaku UMKM disebut pedagang kaki lima, kini mereka menyebut diri sebagai Pelaku Kreatif Lapangan—identitas baru yang mencerminkan perubahan status mereka sebagai pemilik lapak permanen.
“Kami sekarang bukan lagi PKL dalam pengertian lama. Sudah punya tempat tetap, lebih aman, bersih, dan tertata. Ini bukan sekadar relokasi, tapi transformasi,” ujar Fatah.
Transformasi itu juga dirasakan langsung oleh para pedagang. Seorang penjual pecel lele dan ayam goreng mengaku dagangannya kini jauh lebih laris dibandingkan saat masih berjualan di pinggir jalan.
“Alhamdulillah ramai sekali, pecel lele sering habis. Dulu harus bongkar pasang rombong, bayar tempat penitipan dan tenaga, tapi sekarang pengeluaran lebih kecil. Lapak juga gratis, cuma ada iuran kas untuk listrik dan keamanan,” tuturnya kepada Headshot Media.

Terkait pengelolaan SWK, Fatah memastikan bahwa saat ini operasional sentra kuliner sepenuhnya dijalankan oleh komunitas PKL, tanpa keterlibatan langsung dari dinas. Ia juga menyampaikan bahwa sampai saat ini belum ada pungutan retribusi resmi.
“Untuk satu tahun ini belum ada retribusi. Mungkin ke depan akan dibicarakan lagi dengan dinas. Harapan kami, bentuknya ringan dan tidak membebani pedagang,” tambahnya.
Merespons antusiasme dan keberhasilan awal SWK Ahmad Dahlan, para PKL juga menyuarakan harapan agar Pemerintah Kabupaten Jombang membangun sentra serupa di sejumlah kecamatan. Aspirasi tersebut sejatinya telah disampaikan langsung kepada Bupati Warsubi saat rembug beberapa waktu lalu.
“Banyak pedagang di kecamatan yang juga butuh tempat usaha yang tertata seperti ini. Kami sudah sampaikan ke Bapak Bupati saat rembuk kemarin, dan beliau merespons positif,” ungkap Fatah.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya oleh Headshot Media dalam artikel “Pemkab Jombang Gelar Rembug Bareng PKL”, Bupati Warsubi berjanji untuk mendengar langsung aspirasi pedagang dan membuka ruang partisipasi dalam pembangunan kawasan kuliner yang berkelanjutan.
Dengan semangat kolaboratif dan gotong royong, PKL Jombang membuktikan bahwa relokasi bukan berarti peminggiran, tetapi peluang untuk tumbuh bersama. Dari lapak kaki lima menuju sentra kreatif, mereka menunjukkan bahwa perubahan tak harus datang dari atas—asal ada ruang untuk mendengar, merangkul, dan membangun dengan hati. (ear/yud)
