OPINI

FOMO di Era Digital: Kebutuhan Sosial atau Luka Kolektif?

Share

Oleh: [E. Atilla Javas Rajendra]

Pernah nggak sih kamu buka Instagram atau TikTok, terus lihat temen-temen kamu lagi nongkrong rame-rame… dan kamu nggak diajak? Atau mereka nonton konser bareng, staycation ke Bali, atau sekadar makan sushi lucu—dan kamu scroll sambil senyum palsu: “Wah, seru ya…” padahal hati kecilmu bilang, kok bukan gue sih?

Yap, selamat datang di dunia FOMO—Fear of Missing Out. Gejala sosial paling eksis di era digital, yang diam-diam bisa bikin kamu ngerasa paling sendirian meski lagi di tengah keramaian.

Digital Life = Highlight Reel

FOMO sebenarnya bukan barang baru. Dulu juga orang bisa iri lihat temennya punya motor baru atau ranking satu. Tapi sekarang, thanks to social media, kita jadi konsumsi highlight reel hidup orang lain 24/7.

Kita jarang banget lihat sisi lelahnya, cemasnya, atau insecure-nya orang lain. Yang muncul cuma bagian “hidup sempurna” versi filter dan caption positif vibes doang. Ujung-ujungnya? Kita jadi mikir, “Hidup gue kenapa gini-gini aja ya?”

FOMO: Antara Kebutuhan Sosial atau Luka Batin?

Psikolog bilang, manusia itu makhluk sosial. Kita pengin diterima, pengin nyambung sama lingkaran sosial kita. Tapi FOMO kadang ngebawa kita ke arah ekstrem: jadi insecure, impulsif, bahkan overthinking karena takut ditinggal atau nggak diakui.

Ada yang akhirnya maksa ikut semua acara, beli ini-itu biar “nggak ketinggalan”, padahal dompet udah menjerit. Ada juga yang jadi stuck dalam loop perbandingan yang bikin burnout mental. Ini bukan cuma soal ikut-ikutan, tapi soal validasi: “Kalau gue nggak ada di sana, masih dianggap nggak sih?”

Jadi, FOMO bisa jadi sinyal bahwa kita butuh koneksi. Tapi kalau berlebihan, bisa berubah jadi luka kolektif: semua orang merasa sendiri di tengah kebersamaan yang kelihatan sempurna.

Mindful Living: Antidote dari FOMO

Gimana cara ngatasin FOMO? Jawabannya bukan uninstall medsos (meskipun kadang itu perlu juga sih). Tapi lebih ke mindful living—gaya hidup yang sadar dan jujur sama diri sendiri.

Mulai dari nanya: “Gue ikut ini karena gue pengin atau karena takut ketinggalan?” atau “Gue iri karena mereka happy, atau karena gue ngerasa kosong?” Self-check kayak gini penting banget di era digital yang gercep banget bikin kita ngerasa kurang cukup.

Bahkan kadang yang kamu lihat sebagai keseruan orang lain, belum tentu sebenar itu. Banyak juga yang posting biar “kelihatan” happy, padahal aslinya lagi sepi juga.


TL;DR: FOMO Bukan Salahmu, Tapi Kamu Bisa Keluar Dari Siklusnya

FOMO itu manusiawi, tapi bukan berarti harus dibiarkan. Kita hidup di zaman yang selalu bikin kita mikir: “Apa gue udah cukup?” Padahal, cukup itu bukan soal punya apa, tapi ngerasa damai sama diri sendiri.

So, next time kamu ngerasa FOMO, coba tarik napas, tanya ke diri sendiri: “Apa yang sebenarnya gue butuhin sekarang?” Mungkin jawabannya bukan ikut party, tapi peluk diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *