PHK Massal Gudang Garam Viral, Laba Anjlok & Serapan Tembakau Turun: Ada Apa dengan Industri Rokok?
Headshot Media – Industri rokok kembali jadi sorotan publik setelah beredarnya video haru yang memperlihatkan dugaan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal karyawan PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Video yang beredar di media sosial memperlihatkan momen emosional di sebuah aula, di mana karyawan berseragam khas Gudang Garam tampak menangis dan saling berpelukan setelah menerima kabar mengejutkan.
Unggahan tersebut viral usai dibagikan oleh akun Instagram @adion._87, memantik simpati sekaligus pertanyaan besar publik: apa yang sebenarnya terjadi di balik PHK massal ini?
Gudang Garam Belum Angkat Bicara
Hingga kini, manajemen Gudang Garam belum memberikan pernyataan resmi terkait video dan kabar PHK tersebut. Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadwalkan Gudang Garam akan menggelar public expose pada 11 September 2025. Diharapkan, klarifikasi akan disampaikan saat itu.
Namun, satu hal yang pasti – kondisi keuangan Gudang Garam memang sedang tidak baik-baik saja.
Kinerja Keuangan Anjlok di Semester I 2025
Dikutip dari laporan keuangan resmi yang disampaikan ke BEI, laba bersih Gudang Garam pada semester I tahun 2025 tercatat hanya Rp 117,1 miliar, anjlok 87,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 925,5 miliar.
Rangkuman Penurunan Kinerja GGRM:
- Pendapatan turun 11,4%: dari Rp 50,01 triliun (2024) menjadi Rp 44,3 triliun (2025).
- Laba kotor menurun: dari Rp 5,06 triliun menjadi Rp 3,7 triliun.
- Laba usaha turun drastis: dari Rp 1,61 triliun menjadi Rp 513,7 miliar.
- Pendapatan lain-lain menyusut: menjadi Rp 148,7 miliar.
- Rugi selisih kurs: Rp 1,7 miliar (sebelumnya untung Rp 39,3 miliar).
- Beban lainnya naik, sementara beban usaha hanya turun tipis 5%.
Penurunan yang tajam ini disebut-sebut sebagai pemicu utama langkah efisiensi yang dilakukan perusahaan – termasuk kemungkinan PHK.
Efek Domino: Petani Tembakau Ikut Terpukul
Tak hanya karyawan yang terdampak, para petani tembakau juga merasakan pukulan berat. Sejumlah petani di Temanggung, Jawa Tengah, mengeluhkan berhentinya serapan tembakau oleh beberapa pabrikan besar, termasuk Gudang Garam dan Nojorono (produsen Clas Mild).
Akibatnya, para petani kini harus menahan hasil panen mereka tanpa kejelasan pembeli, memicu kekhawatiran akan kerugian besar secara ekonomi.
KSPI Soroti Daya Beli dan Inovasi Produk
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, menyatakan pihaknya tengah menginvestigasi kebenaran kabar PHK massal tersebut. Namun, ia juga menyoroti persoalan yang lebih luas dalam industri rokok saat ini.
“Jika benar terjadi PHK di PT Gudang Garam, ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat sedang rendah, produksi menurun. Gudang Garam juga kurang inovatif dan tidak cukup cepat beradaptasi dengan tren pasar. Ditambah lagi, beban cukai rokok yang terus meningkat semakin memperberat beban industri,” jelas Said Iqbal.
Industri Rokok di Persimpangan Jalan
Industri rokok Indonesia memang tengah menghadapi tantangan berlapis. Mulai dari kebijakan cukai yang kian ketat, perubahan gaya hidup masyarakat, hingga tekanan dari kampanye kesehatan publik. Ditambah dengan persaingan pasar yang ketat dan naiknya harga bahan baku, perusahaan rokok besar pun tak luput dari tekanan.
Gudang Garam yang dulu dikenal sebagai salah satu raksasa industri kini harus menghadapi kenyataan pahit: mengecilnya margin keuntungan dan merosotnya daya saing.(*)
Editor : Adm
