Banjir Masih Mengintai, Pemkab Genjot Normalisasi 28 KM Saluran Air
Jombang – Headshot Media. Dalam 100 hari kerja pertamanya, Bupati Warsubi mulai menaruh fokus pada ancaman banjir yang selama ini menghantui sejumlah wilayah di Kabupaten Jombang. Melalui Dinas PUPR, pemerintah daerah menggencarkan program normalisasi saluran air yang kini diklaim telah melampaui target.
Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Jombang, Imam Bustomi, menyampaikan bahwa hingga akhir Mei 2025, panjang saluran yang berhasil dinormalisasi mencapai 28,56 kilometer, melampaui target awal yang ditetapkan sejauh 26 kilometer.
“Kami realisasikan pengerukan dan perbaikan saluran sepanjang hampir 30 kilometer. Ini melebihi target, dan sudah kami prioritaskan di titik-titik rawan,” ujar Bayu saat dikonfirmasi, Rabu (1/5).
13 Saluran Dikeruk, Puluhan Desa Diuntungkan
Total ada 13 saluran yang masuk dalam program pengerukan tahun ini. Saluran-saluran tersebut menyebar di berbagai kecamatan dan desa, dengan kondisi umum berupa pendangkalan akut, penyempitan alur, dan tanggul rusak akibat usia maupun tekanan air saat musim penghujan.
Di antaranya adalah:
- Afvoer Dayu (1,01 km)
- Sekunder Tejokulon II (3,25 km)
- Afvoer Jasem (2,25 km)
- Afvoer Mojongapit (2,23 km)
- Afvoer Sendangrejo (0,72 km)
- Afvoer Pilanghilir (3,18 km)
- Afvoer Gumbrek (1,82 km)
- Afvoer Gotan (3,56 km)
- Afvoer Karangdagangan (2,90 km)
- Afvoer Pandanwangi (1,91 km)
- Kali Jombang Kulon (2,36 km)
- Afvoer Brawijaya (0,92 km)
- Afvoer Plosorejo/Jombok (2,36 km)
Sebagian besar saluran ini sebelumnya berada dalam kondisi darurat: tertutup sedimen, lebar menyempit hingga setengah dari ukuran aslinya, dan mengancam permukiman saat curah hujan tinggi.
Tak Hanya Dikeruk, Tanggul Jebol Juga Diperbaiki
Selain pengerukan sedimen dan pembenahan lebar saluran, Dinas PUPR juga menargetkan perbaikan tanggul di beberapa titik rawan. Dalam 100 hari pertama pemerintahan Warsubi, terdapat tiga lokasi utama yang mendapat intervensi karena kerusakan serius.
- Dua titik tanggul jebol di Kali Jombang Wetan, Desa Kedunglosari, Kecamatan Tembelang.
- Tanggul ambrol di Sekunder Rejoagung II, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto.
- Tanggul jebol di Sekunder Pilang Hilir yang dilaporkan bulan lalu.
“Perbaikannya tidak hanya pada penguatan fisik tanggul, tapi juga penyesuaian aliran supaya tidak lagi menekan sisi saluran yang lemah,” jelas Bayu.
Masih Perlu Evaluasi: Data, Drainase, dan Dampak
Meski langkah awal ini patut diapresiasi, para pengamat kebijakan dan pegiat lingkungan mendorong agar Pemkab tidak hanya mengandalkan “volume pengerukan” sebagai tolak ukur keberhasilan.
“Apakah aliran sudah sesuai dengan tata ruang? Apakah desa punya data riil elevasi dan kapasitas saluran? Dan apakah ini cukup untuk mencegah banjir 5 tahunan?” ungkap Wiwit Santoso, pemerhati lingkungan dari Forum Sungai Jombang.
Ia menilai, normalisasi harus disertai pemutakhiran data hidrologi, peta kawasan langganan banjir, serta sinergi dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk memastikan tidak ada limbah atau sampah domestik yang kembali menyumbat saluran pasca dikeruk.
Bupati Warsubi dan Harapan Masyarakat
Langkah ini disebut sebagai bagian dari komitmen awal Bupati Warsubi untuk merespons langsung keluhan warga, khususnya di wilayah dataran rendah yang kerap tergenang akibat limpasan saluran sekunder dan afvoer yang tak lagi optimal.
Warga di Desa Mojongapit dan Jasem, misalnya, menyambut baik kegiatan ini meski berharap ada pemeliharaan rutin, bukan sekadar pengerukan besar-besaran yang terjadi beberapa tahun sekali.
Headshot Media mencatat, tantangan terbesar bukan hanya pada pelaksanaan teknis, tetapi bagaimana Pemkab bisa menjaga konsistensi pemantauan, keterbukaan data, dan partisipasi desa dalam menjaga saluran yang sudah dinormalisasi.
Karena sebagus apa pun proyek infrastruktur, bila tak dijaga, maka banjir hanya soal waktu.
